SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERILAKU SEKSUAL SISWA KELAS VIII SMP (KASUS TRANSGENDER DI SMP NEGERI 1 MALANG)

Rahmatika Kusumaningrum

Abstrak


ABSTRAK

 

Kusumaningrum, Rahmatika. 2010. Perilaku Seksual Siswa Kelas VIII SMP (Kasus Transgender SMP Negeri 1 Malang). Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pebimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Drs. Harmiyanto.

 

Kata kunci: perilaku seksual, transgender

 

Tugas perkembangan seksual remaja sama namun cara pelaksanaannya berbeda. Salah satunya adalah menjalankan peran gendernya dengan tepat. Artinya berperilaku sesuai dengan anatomi gendernya. Namun ada beberapa individu justru memainkan peran lawan gendernya. Hal ini terjadi karena ada konflik antara identitas gender dan anatomi gendernya. Individu yang mengalaminya disebut transgender.

Transgender dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Tanpa melihat usia dan asal seseorang. Pada penelitian ini terjadi pada seorang remaja laki-laki yang ingin menjadi seorang perempuan. Ditunjukkan dengan harapannya menjadi perempuan dan tingkah lakunya yang mengikuti tingkah laku stereotip perempuan.

Indonesia sudah mengenal Dorce sebagai salah seorang transgender. Dia mengubah kelaminnya saat dewasa. Di Amerika ada Jazz, seorang anak laki-laki berumur enam tahun yang memiliki identitas gender seorang perempuan yang akhirnya diterima oleh keluarganya.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran atau uraian atas keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti.

Dalam penelitian ini tetrjadi pada seorang remaja berumur 14 tahun yang sedang duduk di bangku kelas VIII SMP. Dia menunjukkan ciri-ciri seorang transgender seperti, ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lainnya (atau ekspresi dari kepercayaan bahwa dia adalah bagian dari gender lainnya), preferensi untuk mengenakan pakaian yang merupakan stereotpikal dari gender lainnya, adanya fantasi terus - menerus mengnai menjadi anggota dari gender lain, atau asumsi memainkan peranyang dilakukan oleh anggota gender lainnya dalam permainan "pura-pura", hasrat untuk berpartisipasi dalam aktivitas waktu luang dan permainan yang merupakan stereotip dari gender lainnya, preferensi yang kuat untuk memiliki teman bermain dari gender lainnya (pada usia anak-anak biasanya memilih teman bermain dari gendernya sendiri).

Saran untuk konselor adalah memberikan bimbingan pada siswanya mengenai peran gender yang sesuai. Saran untuk orang tua adalah lebih memperhatikan perkembangan anaknya agar meiliki peran gender yang sesuai. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk meneliti program apa yang sesuai untuk membantu seorang transgender agar dapat memerankan gender sesuai dengan anatomi gendernya.