SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Subjective Well-being pada Janda yang Telah Menikah Lagi Karena Motif Ekonomi dan Janda yang Telah Menikah Lagi Karena Motif Seksual di Lombok-Nusa Tenggara Barat

Novie Angga Dewi

Abstrak


ABSTRAK

 

Dewi, Novie Angga. 2010. Subjective Well-being pada Janda yang Telah Menikah Lagi Karena Motif Ekonomi dan Janda yang Telah Menikah Lagi Karena Motif Seksual di Lombok-Nusa Tenggara Barat. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Alwisol, M.Pd., (II) Drs. Muhammad Bisri, M.Si

 

Kata kunci: motif ekonomi, motif seksual, subjective well-being

 

Kebiasaan kawin cerai (merariq-beseang) suku Sasak, Lombok, merupakan kebiasaan yang "fenomenal", karena akan dilakukan hingga perkawinan benar-benar memberikan kebahagiaan yang sifatnya terus menerus. Motivasi seksual dan ekonomi diduga dapat mempengaruhi kebahagiaan dalam perkawinan. Melalui penelitian ini akan dilihat apakah janda yang menikah karena motivasi seksual atau karena motif ekonomi yang lebih bahagia dan bagaimana hubungannya masing-masing motif tersebut terhadap kebahagiaan (subjective well-being) janda di Lombok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah : 1) apakah ada perbedaan kebahagiaan pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan variasi motif seksual, 2) apakah ada proses saling menyumbang antara menikah karena motif ekonomi dan menikah karena motif seksual dalam memperoleh kebahagiaan pada janda yang menikah lagi di Lombok, NTB. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, komparatif dan korelasional. Desain deskriptif untuk mendeskripsikan variaabel motif ekonomi, motif seksual dan subjective well-being. Metode komparatif untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan subjective well-being pad janda yang menikah lagi pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan variasi motif seksual. Sedangkan desain korelasional untuk mengetahui adanya korelasi antara motif ekonomi dan motif seksual dengan subjective well-being. Populasi penelitian ini adalah janda yang telah menikah lagi di Nusa Tenggara Barat. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 69 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala motif perkawinan yang memiliki nilai validitas item antara 0,243 - 0,733 dengan reliabilitas sebesar 0,935 dan skala subjective well-being yang memiliki nilai validitas item antara 245- 0,574 dengan reliabilitas sebesar 0,842.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa :1) tidak ada perbedaan subjective wellbeing pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan seksual, 2) ada proses saling menyumbang antara menikah karena motif ekonomi dan motif seksual dalam memperoleh subjective well-being pada janda yang menikah lagi di Lombok-Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka diajukan saran-saran yaitu :1) kepada janda disarankan memperkuat motif ekonomi dan motif seksual dalam mengambil keputusan untuk menikah lagi dan bukan karena adanya dorongan dari pihak luar, seperti saudara, tetangga ataupun teman kerja, 2) kepada para peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema motif perkawinan lagi pada janda dan kebahagiaan subyektif, disarankan melakukan penelitian dengan menambahkan variabel motif yang lainnya, seperti motif keamanan, motif self esteem dan aktualisasi diri