SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Antara Keterampilan Komunikasi dan Penyesuaian Sosial Siswa SMP Ar-rohmah Kec. Dau Kab. Malang

Lukman Amin

Abstrak


ABSTRAK

 

Amin. Lukman. 2009.  Keterampilan Komunikasi Dan Penyesuaian Sosial Siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu  Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Widada. M. Si, (2) Dra. Ella Farridati Zen. M. Si

 

Kata Kunci : Keterampilan Komunikasi, Penyesuaian Sosial. 

 

Keterampilan komunikasi adalah salah satu alat atau cara untuk melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan. Seseorang yang mempunyai keterampilan komunikasi yagn baik akan lebih mudah untuk melakuan penyesuaian sosial dengan lingkungan baik di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas, mereka akan lebih mudah untuk bisa menerima dan diterima oleh lingkungan karena bisa membina hubungan dengan lingkunganya. Sebaliknya dengan seseorang yang kurang mempunyai keterampilan komunikasi  yang menyebabkan kurang bisa membina hubungan yang baik dengan lingkungannya maka juga akan sulit untuk menerima dan diterima di lingkungannya. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui keterampilan komunikasi siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang, (2) mengetahui penyesuaian sosial siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang, (3) mengetahui hubungan antara keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang. 

Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi  penelitain ini adalah siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 95 siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Ar-rohmah Dau Malang yang berjumlah 95 orang. Instrument yang digunakan untuk keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial adalah angket terstruktur yang terdiri  dari item favourabel dan unfavourabel. Teknik yang digunakan adalah presentase, uji asumsi (uji normalitas dan uji linieritas), dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95% dan tingkat toleransi kesalahan 5%.

Hasil penelitian keterampilan komunikasi menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (7.36%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori  yang sangat baik,  Cukup Banyak (37.89%)  siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam kata gori yang Baik, Cukup Banyak  (41.05%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori yang cukup baik, Sangat Sedikit (0%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori yang kurang Baik, dan Sangat Sedikit (13.68%) siswa yang memiliki keterampilan komunikasi dalam katagori Sangat Kurang Baik. Sedangkan hasil penelitian penyesuaian sosial menunjukkan bahwa Sedikit (27.36%) siswa yang memiliki penyesuaian  sosial dalam kategori Sangat Baik, Cukup Banyak (48.42%) siswa yang memiliki penyesuaian  sosial dalam kategri Baik, Sangat sedikit (18.94%.) siswa yang memiliki penyesuaian  sosial dalam kategori Cukup Baik, Sangat sedikit (3.15%) siswa yang memiliki penyesuaian  sosial dalam kategori kurang baik. Sangat Sedikit (2.10%) siswa yang memiliki penyesuaian sosial dalam kategori Sangat Kurang Baik.   Hasil analisis uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterampilan komunkasi dan penyesuaian sosial dengan koefisien korelasi r hitung lebih besar dari pada r tabel yaitu 0.528 > 0.202 dengan taraf signifikan sebesar 0,05%.

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) pihak sekolah diharapkan ikut membantu dan bahkan mendukung pelatihan dan pengembangan keterampilan komunikasi dan penyesuaian sosial seperti dengan mengaktifkan  kegiatan ekstrakokurikuler, sehingga di dalam kegiatan itu siswa mampu belajar berorganisasi, mampu belajar mengelola emosi secara positif yang mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal, (2) Konselor memberikan bimbingan mengenahi cara bersosialisasi yang efektif, bisa dilakukan dengan metode bimbingan kelompok, bermain peran, atau sosiodrama dengan harapan dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang positif dan efektif pada diri siswa. Apabila tidak terdapat perubahan pada diri siswa dapat ditindak lanjuti dengan konseling baik individu atau kelompok. Dalam hal ini konselor harus benar-benar menguasai teknik konseling yang memadahi agar dapat membantu masalah-masalah siswa dengan baik pula, sehingga siswa terbantu oleh konselor disekolah,  (3) peneliti selanjutnya, hendaknya mengadakan penelitian yang pada subyek yang lebih luas dan menggunakan  instrument pengumpulan data yang lebih beragam, seperti melakukan observasi, wawancara, sosiomerti, dll. Sehingga data yang diperoleh bisa lebih lengkap dan dapat dikembangkan lebih luas terutama untuk meningkatkan hasil penelitian selanjutnya.