SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Pengungkapan Diri Dalam Konseling Siswa SMA Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik

INDAH PURMIYANTI

Abstrak


ABSTRAK

 

Purmiyanti, Indah. 2010. Hubungan antara Konsep Diri dengan Pengungkapan Diri dalam Konseling Siswa SMA Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Blasius Boli Lasan, M. Pd. (II) Dra. Elia Flurentin, M. Pd.

 

Kata kunci: Konsep diri, pengungkapan diri dalam konseling

 

Pengungkapan diri sangat penting dalam proses hubungan antara konselor dan konseli karena merupakan salah satu cara untuk dapat mengetahui dan memahami dengan tepat apa yang dialami seseorang dan juga untuk memberikan informasi tentang diri sendiri. Pemberian informasi tentang diri sangat diperlukan pada saat konseling karena merupakan komponen penting dalam konseling. Pada dasarnya, pengungkapan diri yang dilakukan  konseli berguna untuk memberikan kesan terhadap diri dan meningkatkan kontrol orang lain yang berguna dalam pembentukan konsep diri konseli.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Gambaran konsep diri siswa SMA Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik, (2) Gambaran pengungkapan diri dalam konseling siswa SMA Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik, (3) Hubungan antara konsep diri dan pengungkapan diri dalam konseling siswa SMA Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah desktiptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI dan XII SMAN 1 Sidayu yang telah melakukan konseling sebanyak 110 orang. Sampel penelitian ini sejumlah 55 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket konsep diri dan pengungkapan diri dalam konseling. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase dan korelasi product moment.

Hasil penelitian yaitu: (1) Sebagian Siswa SMAN 1 Sidayu Kabupaten Gresik memiliki konsep diri rendah , (2) Siswa SMAN 1 Sidayu Kabupaten Gresik memiliki pengungkapan diri yang dalam, (3) Faktor pengalaman berinteraksi dengan lingkungan dan budaya sangat mempengaruhi pembentukan dan perubahan konsep diri dan pengungkapan diri dalam konseling, (4)Ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan pengungkapan diri dalam konseling.

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar (1) Konselor memberikan layanan informasi tentang konsep diri dan cara mengembangkan, melalui konseling individual dan atau kelompok, dapat juga melalui permainan simulasi yang bertujuan untuk meningkatkan konsep diri siswa. Dapat juga menggunakan media film (misalnya film Happy Feet yang didalamnya menceritakan tentang konsep diri dan mengajarkan untuk menjadi diri sendiri) yang berisikan tentang konsep diri yang baik, sehingga dapat membantu siswa yang masih mempunyai konsep diri rendah, (2) Konselor hendaknya dapat menunjukkan kepada siswa bahwa konselor dapat dipercaya menjaga kerahasiaan dan menunjukkan keramahan kepada siswa agar mempunyai kesadaran untuk datang sendiri pada konselor, serta agar siswa dapat dengan rela mengungkapkan masalah yang sedang dihadapi baik masalah pribadi, keluarga maupun masalah keuangan, 3) Guru dapat turut berperan serta dalam proses pengembangan konsep diri dan pengungkapan diri dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih terbuka dalam mengungkapkan diri, pendapat dan gagasan siswa dengan menggunakan metode diskusi dan tanya jawab dalam pembelajaran di kelas, (4) Bagi peneliti yang tertarik dengan masalah konsep diri dan pengungkapan diri hendaknya menambahkan atau mengganti salah satu variabel dengan kebudayaan karena budaya merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan konsep diri dan pengungkapan diri. Serta lebih memperluas populasi menjadi beberapa sekolah, yang nantinya peneliti akan mendapatkan hasil yang signifikan dari tiap sekolah. Hasil yang didapat nantinya akan menjadi masukan bagi konselor untuk merancang program layanan bimbingan konseling yang akan diberikan pada siswa.