SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kontribusi Pola Asuh Otoriter Orang Tua dan Krisis Identitas Diri Terhadap Kecenderungan Agresif Siswa SMA Negeri 9 Malang.

RATIH ARUM PANGESTUNINGTYAS

Abstrak


Kata Kunci: Otoriter, Krisis Identitas Diri, Agresif.

Agresifsuatu tindakan untuk menyakiti orang lain, tindakan yang dilakukan memiliki tujuan untuk merugikan orang lain. Tindakan agresif akan muncul jika ada harapan atau keinginan yang belum tercapai. Aspek-aspek dari perilaku agresif yaitu menyerang orang lain dengan verbal, menyerang orang lain dengan fisik, dan menyerang obyek.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kontribusi pola asuh otoriter orang tua dan krisis identitas diri terhadap agresif siswa di SMA Negeri 9 Malang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif eksplanasi dengan menggunakan instrumen berupa skala pola asuh otoriter orang tua, skala krisis identitas diri dan skala agresif. Populasi dari penelitian ini merupakan siswa kelas X dan XI SMA Negeri 9 Malang, dan sampel berasal dari kelas X IPA 3, X IPS 2, X BHS, XI IPA 3, XI IPS 3, dan XI BHS pengambilan sampel berdasarkan dari cluster random sampling.

Data penelitian menyebutkan skala pola asuh otoriter orang tua dengan validitas butir masing-masing ≥ 0,3, dengan reliabilitas 0,798. Skala krisis identitas diri dengan validitas masing-masing ≥ 0,3, dengan reliabilitas 0,898, dan skala agresif dengan validitas butir masing-masing ≥ 0,3, dengan reliabilitas 0,807. Dengan angka tersebut maka uji butir instrumen dinyatakan lolos karena uji reliabilitas diatas ≥ 0,3 dan uji reliabilitas diatas ≥ 0,4 atau dikatakan cukup. Data tersebut dianalisis statistik menggunaka SPSS for windows 21.0.

Berdasarkan hasil kontribusi efektif setiap variabel prediktor, didapatkan kontribusi efektif variabel pola asuh otoriter orang tua terhadap agresif sebesar 0,090 artinya bahwa besar pengaruh terhadap variabel agresif yang ditimbulkan oleh variabel pola asuh otoriter orang tua adalah sebesar 9%. Sedangkan kontribusi efektif variabel krisis identitas diri terhadap variabel agresif sebesar 0,010 artinya bahwa besar pengaruh terhadap variabel agresif yang ditimbulkan oleh variabel krisis identitas diri adalah 1%. Jadi antara variabel pola asuh otoriter orang tua dan krisis identitas diri terhadap kecenderungan agresif mendapatkan sumbangan kontribusi efektif sebesar 10%. Terdapat faktor lain di luar variabel yang ditelah diteliti yang memiliki kontribusi besar kecenderungan agresif sebesar 90%.

 

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar siswa SMA Negeri 9 Malang memiliki tingkat pola asuh otoriter orang tua sedang, memiliki tingkat krisis identitas diri yang sedang, dan tingkat agresif pada kategori rendah. Terdapat kontribusi yang sebesar 10% antara pola asuh otoriter orang tua dan kriris identitas diri terhadap kecenderungan agresif siswa SMA Negeri 9 Malang. Berdasarkan penelitian ini, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian terkait dengan variabel lain (kecerdasan emosi, pengaruh lingkungan, status ekonomi, dan lain-lain)untuk mengetahui seberapa besar dampak dari kecenderungan agresif. Dengan demikian, akan dapat diperoleh gambaran yang lebih luas tentang variabel yang memiliki kontribusi besar terhadap agresif, agar orang tua dan pihak sekolah dapat mencegah terjadinya perilaku agresif pada siswa.