SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Empati Siswa Reguler terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusi SMP Negeri 18 Malang

Dewi Hadjar

Abstrak


ABSTRAK

 

Hadjar, Dewi. 2010. Empati Siswa Reguler terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusi SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si

 

Kata kunci : empati, siswa reguler, siswa berkebutuhan khusus, kelas inklusi

 

Pada saat ini siswa berkebutuhan khusus tidak harus sekolah di SLB, mereka bisa sekolah di sekolah reguler yang disebut dengan sekolah inklusi. Dalam sekolah inklusi atau pendidikan inklusi terdapat sistem pengajaran yang menggabungkan antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler dalam satu kelas. Pendidikan inklusi ini memiliki berbagai manfaat, baik bagi siswa berkebutuhan khusus maupun siswa reguler. Manfaat yang diperoleh siswa reguler di kelas inklusi yaitu siswa belajar untuk berempati, sensitif, memahami, menghargai dan menumbuhkan rasa nyaman pada perbedaan individual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat empati siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusi SMP Negeri 18 Malang.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, subyek penelitian ini berjumlah 97 siswa reguler yang berada di kelas inkusi dengan usia 11-15 tahun. Menggunakan kelas VII dan Kelas VIII yang merupakan kelas inklusi, diantaranya yaitu kelas VII C, VII D, VIII A dan VIII E. Penelitian menggunakan angket empati yang dikembangkan oleh peneliti, yang disusun berdasarkan aspek empati dari Schlenker & Britt (2001) yaitu aspek afektif yang terdiri dari dua indikator (a) mampu merasakan kondisi emosi orang lain dan (b) mampu mngekspresikan kepedulian terhadapa orang lain. Aspek kognitif juga terdiri dari dua indikator yaitu (a) mampu memahami cara berfikir orang lain, dan (b) mampu menempatkan dirinya dalam posisi orang lain. Hasil koefisien validitas aitem antara 0,224 - 0,680 dan hasil analisis reliabilitas angket empati dengan menggunakan teknik analisis koefisien Alpha (α) dari Cronbach sebesar 0,871 sehingga instrumen dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati siswa reguler bergerak dari tinggi berjumlah 55 siswa dengan persentase 56,7%, klasifikasi rendah berjumlah 42 siswa dengan persentase 43,3%. Aspek afektif pada indikator pertama yaitu siswa reguler mampu merasakan kondisi emosi siswa berkebutuhan khusus didapatkan hasil bahwa sebanyak 84,5% siswa reguler dapat mengerti perasaan teman ABK saat mereka diejek oleh teman-teman yang lain, 41,2% kurang peka terhadap perasaan teman ABK, 59,8% akan berusaha untuk menenangkan ABK saat ABK marah, 23,7% akan tetap menemani ABK saat emosi ABK sedang tidak stabil, 64,9% merasa sedih ketika ABK mengalami kejadian buruk saat di kelas, 46,4% segera menghibur ketika ABK terlihat sedih, 38,1% merasakan ketakutannya ABK ketika ABK dimarahi oleh guru, 41,2% senang menanyakan bagaimana perasaan teman ABK, 49,5%) menganggap kesedihan ABK merupakan masalah yang besar. Aspek afektif pada indikator kedua yaitu siswa reguler mampu mengekspresikan kepedulian terhadapat siswa berkebutuhan khusus didapatkan hasil bahwa sebanyak 82,5% akan langsung membantu ketika ABK membutuhkan suatu bantuan, 83,5% senang jika membantu ABK walaupun tidak diminta oleh guru, 89,7% peduli dengan keadaan ABK, 93,8% benar-benar peduli dengan keadaan ABk, 92,8% tidak malu berada satu kelas dengan ABK, 71,1% akan membantu menjelaskan kepada ABK ketika ABK kurang paham dengan penjelasan guru di kelas, 72,2% merasa senang berteman dengan ABK, 69,1% akan membantu teman ABK walaupun tidak diminta oleh guru, 47,4% merasa nyaman satu kelas dengan ABK, 37,1% membantu menulis ketika ABK mengalami kesulitan. Sedangkan pada aspek kognitif pada indikator pertama yaitu siswa reguler mampu memahami cara berfikir siswa berkebutuhan khusus didapatkan hasil bahwa sebanyak 80,4% mengerti bahwa ABK memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalahnya, 57,7% akan memperhatikan setiap perkataan yang di ucapkan ABK, 42,3% mengerti topik bahasan yang dibicarakan oleh ABK, 34% tidak menganggap cara berfikir ABK kekanak-kanakan, 32% senang berdebat dengan ABK, 78,4% benar-benar mengerti dengan cara berfikir teman ABK, 40% sering melakukan diskusi dengan ABK, aspek kognitif pada indikator kedua yaitu siswa reguler mampu menempatkan dirinya dalam posisi siswa berkebutuhan khusus didapatkan hasil bahwa sebanyak 27,8% bisa menjadi bagian kelompok dalam kegiatan yang diadakan oleh ABK, 84,5% berusaha menjadi teman yang baik bagi ABK, 21,6% akan tetap dekat dengan ABK saat mereka diganggu, 49,5% tidak setuju jika ABK sekolah di SLB, 58,8% menganggap bahwa ABK tidak bisa bergaul dengan baik, 93,8% mengerti dengn perilaku ABK yang berbeda dengan siswa reguler lainnya, 60,8% merasa yakin jika teman ABK bisa bersosialisasi dengan siswa reguler lainnya, 40,2% bisa membahayangkan kesulitan ABK ketita ABK mengikuti pelajaran olahraga.

Dari hasil penelitian disarankan bagi (1) siswa reguler belajar untuk lebih peka terhadap siswa berkebutuhan khusus agar siswa berkebutuhan khusus bisa bersosialisasi dan bekerjasama dengan baik dan siswa berkebutuhan khusus dapat meningkatkan potensi yang ada didalam dirinya. Jangan merasa risih dengan adanya siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas, namun bersikap lebih bijak menerima keberadaan teman dengan kondisi yang lain dari teman reguler lainnya, selain itu sebagai motivasi dalam diri karena diberikan kelebihan daripada teman siswa berkebutuhan khusus. (2) Merencanakan kurikulum yang sesuai dan dapat meningkatkan nilai empati siswa reguler, selain itu mengadakan seminar yang sifatnya memberi pandangan terhadap siswa reguler dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus. Game yang di adakan dalam pelajaran olahraga disekolah juga akan membantu tercipta dan terasahnya perasaan empati siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus. (3) bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan empati siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusi, menambah instrumen yang digunakan, dan menambah populasi penelitian.