SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

perbedaan pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga broken home di SMA negeri 2 Malang

Sulistiyowati .

Abstrak


ABSTRAK

 

Sulistiyowati. 2010. Perbedaan Pengambilan Keputusan Karier Siswa dari Keluarga Utuh dengan Siswa dari Keluarga Broken Home di SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd., (II) Dr. Andi Mappiare AT, M.Pd.

 

Kata Kunci : Keputusan karier, keluarga utuh, keluarga broken home

 

            Siswa Sekolah Menengah Atas adalah siswa yang berada pada rentangan usia remaja, pada jenjang ini, remaja berada pada masa untuk memasuki dunia pendidikan tinggi yang merupakan tempat untuk membentuk integritas karier yang didambakannya. Masa remaja merupakan masa di mana pengambilan keputusan meningkat. Remaja mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan seperti memilih teman, studi lanjutan, dan karier. Faktor-faktor dalam pengambilan keputusan karier yaitu faktor internal dan faktor eksternal; faktor internal antara lain faktor jasmani (kesehatan, cacat tubuh), faktor psikologis (inteligensi, perhatian, bakat, minat, dan kesiapan). Faktor eksternal antara lain faktor keluarga (cara orang tua mendidik, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan siswa), faktor masyarakat (teman bergaul, kehidupan masyarakat, mass media). Dari faktor keluarga dilihat dari keadaan keluarga yaitu struktur keluarga siswa. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi perkembangan siswa. Keluarga utuh perhatian terhadap anak lebih baik, pada keluarga broken home perhatian terhadap perkembangan anak kurang fokus.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga utuh di SMA Negeri 2 Malang, (2) gambaran pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga broken home di SMA Negeri 2 Malang, (3) perbedaan pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga broken home di SMA Negeri 2 Malang.

            Rancangan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Malang, populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI dengan jumlah 284 orang. Penarikan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik Quota Random Sampling dengan jumlah sampel 132 responden yang meliputi 84 orang siswa dari keluarga utuh dan 48 orang siswa dari keluarga broken home. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket. Teknik analisis menggunakan analisis presentase untuk mendeskripsikan pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga utuh dan broken home dan analisis Uji-t yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pengambilan keputusan karier siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga broken home yang diolah dengan SPSS 12 for windows

Hasil penelitian diketahui bahwa siswa dari keluarga utuh di SMA Negeri 2 Malang dikategorikan mampu dalam pengambilan keputusan karier, hal ini ditunjukkan oleh presentase sebesar 95,23%, sedangkan siswa dari keluarga broken home di SMA Negeri 2 Malang dikategorikan kurang mampu dalam pengambilan keputusan karier, hal ini ditunjukkan oleh presentase sebesar 62,5%. Berdasarkan hasil analisis diketahui ada perbedaan pengambilan keputusan karier siswa yang berasal dari keluarga utuh dan siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMA Negeri 2 Malang. Siswa SMA Negeri 2 Malang yang berasal dari keluarga utuh memiliki kemampuan pengambilan keputusan karier yang lebih tinggi daripada siswa yang berasal dari keluarga broken home.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak sekolah hendaknya memberikan bimbingan karier yang intensif kepada siswanya. Bimbingan karier dilakukan sejak kelas X sehingga pada akhirnya siswa lebih mampu dalam memutuskan pilihan kariernya untuk siswa yang pengambilan keputusannya masih kurang. Bagi orang tua diharapkan lebih meningkatkan perhatian dan memberikan dorongan pada anak-anaknya agar anak dapat lebih meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan kariernya. Bagi peneliti selanjutnya agar penelitian lebih sempurna, maka diharapkan peneliti menambah subyek penelitian.