SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK MODEL COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL SISWA KELAS VIII-E DI PENDIDIKAN INKLUSI SMP NEGERI 18 MALANG

Irianti Agustina

Abstrak


ABSTRAK

 

Agustina, Irianti. 2010. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Model Cooperative Learning untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa Kelas VIII E di Pendidikan Inklusi SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan BKP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra Ella Faridati Zen, M.Pd, (2) Dra Elia Flurentin, M.Pd.

 

Kata Kunci : Pendekatan konstruktivistik, cooperative learning, interaksi sosial

 

            Berdasarkan UU No.20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan atau potensi siswa dan membentuk watak yang bermartabat serta cerdas. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap kelas VIII E di SMPN 18 Malang, tingkat interaksi sosial siswa yang satu dengan yang lainnya masih rendah. Hal ini terbukti dari pengaturan tempat duduk yang homogen memisahkan antara group laki-laki dan group perempuan dalam kelas. Selain itu, terisolirnya dua siswa ABK semakin mempertegas bahwa kesenjangan kemampuan masih terjadi. Dengan demikian proses belajar mengajar diharapkan tidak lagi berpusat pada pendidik (teacher centered), akan tetapi berpusat pada siswa (student centered). Adanya UUD 1945 pasal 51 (amandeman) semakin mempertegas bahwa pendidikan tidak saja diperuntukkan bagi anak normal atau mampu, tetapi juga bagi mereka yang menyandang cacat fisik dan/atau mental juga diberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan biasa dan luar biasa.

Tujuan dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model cooperative learning adalah untuk meningkatkan interaksi sosial siswa dan pembenahan strategi bimbingan. Pendidikan inklusi sebagai jembatan terhadap jarak yang terjadi antara anak normal dengan cacat/anak berkebutuhan khusus (ABK), memberikan kesempatan bagi ABK untuk mengikuti kegiatan sekolah bersama anak normal. Merujuk pada sejarah BK sejak tahun 1975 dan Permen Diknas No.20 tahun 2006 tentang standar isi semakin mempertegas bahwa program bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang terintegrasi dengan program sekolah, begitu juga dengan program pendidikan inklusi. Integrasi antara program BK dengan program sekolah berwujud tujuan operasional yang menyatakan bahwa pendidikan untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan tugaas perkembangannya.

Penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), salah satu jenis rancangan penelitian kualitatif di bidang pendidikan. Rancangan penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat postpositivisme. PTK dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model cooperative learning terdiri dari empat tahapan, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi. PTK terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari: rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah seluruh siswa VIII E di SMPN 18 Malang yang berjumlah 41 siswa (terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan, serta 2 diantaranya siswa ABK). Data penelitian meliputi: 1) hasil observasi pada refleksi awal, 2) hasil observasi interaksi sosial siswa selama pemberian tindakan, 3) hasil observasi ketepatan tindakan konselor selama observasi, dan 4) hasil wawancara pratindakan dan paska tindakan.

Hasil analisis dan refleksi tindakan pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa terjadi peningkatan interaksi sosial siswa dengan penerapan pendekatan konstruktivistik model cooperative learning. Hal ini terlihat dari temuan penelitian berupa data peningkatan interaksi sosial siswa dari siklus I dan siklus II. Peningkatan tersebut terlihat dari aspek situasi interaksi sosial yang diobservasi, yakni: (1) adanya kerjasama, peningkatan persentase sebesar 6%, (2) adanya persaingan, peningkatan persentase sebesar 18%, (3) adanya pertentangan, peningkatan persentase sebesar 4%, (4) adanya persesuaian peningkatan, persentase sebesar 17% dan (5) adanya perpaduan, peningkatan persentase sebesar 12%. Untuk ketepatan tindakan konselor dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model cooperative learning terdiri dari empat tahapan, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi juga mengalami peningkatan dari tindakan siklus I dan siklus II. Tindakan konselor dalam menggali pengetahuan awal siswa pada tahap eksplorasi mengalami peningkatan sebesar 25%. Tindakan konselor pada tahap eksplanasi menunjukkan tingkat keberhasilan 100% pada siklus I dan siklus II, sedangkan pada tahap ekspansi mengalami peningkatan sebesar 25%. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konstruktivistik model cooperative learning dapat meningkatkan interaksi sosial siswa.

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model cooperative learning, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) bagi konselor yang tertarik menerapkan model cooperative learning seyogianya mempertimbangkan hal-hal seperti: kesiapan konselor, kesiapan siswa, ketersediaan waktu untuk berdiskusi, serta memberikan pengalaman belajar yang bervariasi untuk pemilihan media dan metode yang digunakan dan (2) untuk mempermudah siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuan, sebaiknya memberikan pengalaman belajar atau penyajian fenomena.