SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Cooperative Learning dengan Model Numbering Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Kelas VIII-D SMPN 18 Malang.

ERLIN DESSY TRIANDAYANI Anugrahsari

Abstrak


ABSTRAK

 

Anugrahsari, Erlin Dessy Trihandayani. 2010 .Penerapan Cooperative Learning dengan Model Numbering Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Kelas VIII-D SMPN 18 Malang. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra.Ella Faridati Zen, M.Pd (2) Drs. Djoko Budi Santoso.

Kata Kunci : Cooperative Learning, Numbering Head Together (NHT) dan Keterampilan Sosial.

Pada saat pelaksanaan layanan bimbingan konseling berlangsung di kelas, siswa cenderung kurang memperhatikan konselor yang menyampaikan materi bimbingan, siswa cenderung berbicara dengan teman sebangku, kurang dapat bekerja sama dengan teman yang tidak dekat dan saat konselor memberikan pertanyaan mengenai materi bimbingan, siswa cenderung menjawab bersama-sama sehingga membuat kelas menjadi gaduh. Selain itu konselor cenderung menggunakan teknik ekspositori saat menyampaikan materi di kelas, hal ini kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif salama pelaksanaan layanan bimbingan konseling. Siswa kelas VIII-D SMPN 18 Malang kurang memiliki keterampilan sosial yang dapat dijadikan bekal saat berada di masyarakat, maka salah satu model pembelajaran yang di duga dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa adalah pendekatan Cooperative Learning model Numbering Head Together yang memiliki empat tahapan yang sistematis yaitu (1) Numbering, (2) Questioning, (3) Head Together dan (4) Answering.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dengan model Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII-D SMPN 18 Malang.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan yang dilakukan dalam empat tahapan yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Empat tahapan tersebut membentuk satu putaran yang beruntunan yang diberi nama satu siklus. Pada penelitian ini dilakukan dalam dua siklus penelitian. Hasil data yang diperoleh di analisis dalam bentuk analisis kualitatif dan kuantitatif.

Penerapan model numbered head together pada layanan bimbingan konseling dapat mencapai skor maksimal yaitu 100% pada siklus II serta dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII-D. Hal ini tampak dari hasil analisis angket keterampilan sosial siswa sebelum tindakan mencapai 77% dan setelah siklus II mencapai 91% sehingga terjadi peningkatan sebesar 14%. Selain itu juga mampu meningkatkan kemampuan dalam memahami materi bimbingan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan Cooperative Learning dengan model Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII-D SMPN 18 Malang pada layanan bimbingan konseling karena terjadi peningkatan keterampilan sosial setelah pelaksanaan tindakan.

Dari hasil penelitian ini dapat disarankan Bagi konselor saat menggunakan model numbered head together pada saat pelaksanaan layanan bimbingan konseling perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kelas dengan baik serta memiliki sikap yang asertif pada siswa sehingga selama proses berlangsung dapat berjalan dengan lancar. Dapat dijadikan salah satu alternatif saat menyampaikan materi bimbingan sehingga dapat memberikan manfaat yang banyak bagi siswa setelah mengikuti layanan bimbingan serta membuat siswa lebih antuasias saat mengerjakan tugas yang diberikan konselor. Untuk peneliti selanjutnya dapat memperhatikan kekurangan yang terjadi saat pelaksanaan tindakan sehingga dapat lebih efektif dalam menerapkan  model numbered head together pada layanan bimbingan konseling. Untuk program studi Bimbingan dan Konseling dapat digunakan dapat memperhatikan pelaksanaan model Numbered Head Together karena dijadikan bahan kajian peneliti selanjutnya.