SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ANALISIS GENDER TERHADAP PERILAKU PERUNDUNGAN (BULLYING) DI KALANGAN SISWA SMA NEGERI 2 BLITAR

Ayudea Tamaratika

Abstrak


ABSTRAK

 

Usia remaja merupakan usia yang krusial pada tahap perkembangan manusia. Remaja mulai mencari makna dan tujuan mereka hidup. Proses pencarian jati diri ini erat kaitannya dengan hubungan sosial remaja, yaitu hubungan antar teman sebaya. Penolakan hubungan teman sebaya yang bersifat merusak di kelompok sebaya dapat menyebabkan tindakan agresif. Sebaliknya, penolakan yang bersifat produktif justru dapat meningkatkan aktualisasi diri pada remaja. Perundungan antara laki-laki dan perempuan berbeda dilihat dari berbagai perspektif, yaitu perspektif biologis, psikologis, dan gender.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan bentuk-bentuk perilaku perundungan antara laki-laki dan perempuan, mengetahui penyebab dominasi perilaku perundungan antara laki-laki dan perempuan, serta menemukan alternatif pencegahan dan penanganan perilaku perundungan pada siswa laki-laki dan perempuan di SMA Negeri 2 Blitar.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian embedded konkuren mixed methods, yaitu strategi yang memiliki metode primer sebagai fokus penelitian dan metode sekunder sebagai pendukung penelitian. Metode primer yang digunakan adalah kuantitatif survei sedangkan metode sekunder yang digunakan adalah kualitatif wawancara mendalam. Analisis yang digunakan adalah statistik komparatif dan statistik deskriptif serta analisis data kualitatif. Alat pengumpul data yang digunakan berupa inventori perilaku perundungan.

Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku perundungan antara laki-laki dan perempuan dengan nilai koefisien komparasi uji-t sebesar 1,158 dan data sig (2-tailed) 0,248. Analisis data kuantitatif deskriptif menunjukkan bahwa perundungan fisik, verbal, dan cyberbullying didominasi oleh laki-laki sedangkan perundungan relasional didominasi oleh perempuan. Analisis data kualitatif menunjukkan bahwa penyebab perilaku perundungan adalah bercanda, kepuasan diri, manajemen emosi yang kurang baik, membalas perilaku korban, berbagi perasaan, serta perilaku imitasi dari lingkungan; alternatif pencegahan perilaku perundungan diantaranya adalah kolaborasi antara konselor dan guru mata pelajaran lain serta pemaksimalan papan bimbingan, sedangkan alternatif penanganan perilaku perundungan pada laki-laki adalah dengan teknik behavioral dan perempuan adalah dengan layanan mediasi.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi konselor sebagai dasar penyusunan tindakan pencegahan dan penanganan dalam perilaku perundungan di sekolah; bagi Jurusan Bimbingan dan Konseling sebagai informasi mahasiswa bimbingan dan konseling agar dapat mengembangkan berbagai media pencegahan dan penanganan perilaku perundungan; serta bagi peneliti selanjutnya sebagai referensi perilaku perundungan dari aspek gender.