SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PELAKSANAAN TATA TERTIB DENGAN SCORSING SYSTEM DALAM MENEGAKKAN DISIPLIN SISWA DI SMA NEGERI 2 MALANG

Nisaul Lathifah

Abstrak


ABSTRAK

 

Lathifah, Nisaul. PELAKSANAAN TATA TERTIB DENGAN SCORSING SYSTEM DALAM MENEGAKKAN DISIPLIN SISWA DI SMA NEGERI 2 MALANG

 

Kata Kunci : Tata Tertib, Scorsing System, Disiplin

 

Dalam pembentukan, pembinaan dan pengembangan kedisiplinan, setiap sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat formal, negeri maupun swasta perlu mempunyai aturan atau tata tertib. Hal ini dikarenakan peranan tata tertib di sekolah dapat mengatur kehidupan para pelajar baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Tata tertib sekolah adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi atau hukuman terhadap yang melanggarnya. Pada kenyataan sehari-hari masih banyak ditemukan para pelajar yang melanggar tata tertib sekolah, untuk itu sekolah perlu membuat strategi untuk mengurangi jumlah pelanggaran serta dapat mengukur jenis pelanggarannya dan strategi ini menggunakan scorsing system yang dianggap mampu menegakkan disiplin siswa di sekolah.

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pemaknaan personel sekolah dan siswa terhadap scorsing system, (2) mengetahui mekanisme pelaksanaan scorsing system dalam menegakkan disiplin siswa, (3) mendeskripsikan bentuk perilaku pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa, (4) mendeskripsikan perubahan perilaku siswa atas pelanggaran dari sanksi pelaksanaan scorsing system, dan (5) mengetahui faktor yang menyebabkan siswa melakukan pelanggaran disiplin.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah pihak yang bertangung jawab menangani tata tertib siswa (guru tata tertib) dan personel sekolah (guru, wakil kepala sekolah, guru, konselor, dan siswa). Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumentasi. Prosedur analisis data dilakukan selama pengumpulan data dan sesudah proses pengumpulan data berlangsung. Prosedur analisis data selama pengumpulan adalah dengan menggunakan koding (kode data), sedangkan prosedur analisis sesudah proses pengumpulan data meliputi reduksi data, penyajian data (display data), dan penarikan kesimpulan (verfikasi).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemaknaan personel sekolah terhadap scorsing system scorsing system dapat dipakai sebagai alat menjadikan siswa jera, menjadikan siswa lebih tertib dan disiplin, scorsing system dapat menghasilkan perubahan pada siswa, pembobotan sanksi/ hukumannya seimbang dengan pelanggarannya, menjadikan siswa takut untuk melakukan pelanggaran, dan jumlah pelanggaran menjadi berkurang, sedangkan pemaknaan siswa terhadap scorsing system adalah siswa memandang scorsing system sebagai suatu hukuman atas pelanggaran tata tertib, scorsing system merupakan upaya preventif atas pelanggaran disiplin siswa, dan scorsing system membuat siswa takut mengulangi pelanggaran, (2) mekanisme pelaksanaan scorsing system dalam menegakkan disiplin siswa adalah a) mensosialisasikan scorsing system yang telah dipakai di sekolah ini pada masa orientasi atau pada tahun ajaran baru untuk siswa kelas X, b) sekolah memberikan buku tata tertib bagi setiap siswa yang di dalamnya terdapat berbagai peraturan yang ada di sekolah ini, jenis pelanggaran beserta bobot/ skornya, dan kolom jenis pelanggaran yang bisa diisi oleh siswa ketika siswa yang bersangkutan melakukan pelanggaran, c) kepala sekolah membentuk Tim Piket Sekolah yang bertugas memantau dan mengawasi sikap, ucapan dan tindakan siswa di sekolah, d) personel sekolah (guru bidang studi, wali kelas, dan konselor) bersama-sama mencermati, mengawasi, dan menegur setiap siswa yang bermasalah, dan membantu yang bersangkutan untuk memecahkan masalahnya, dan e) pada setiap akhir tahun pelajaran, hasil penilaian pemantauan dan penilaian budi pekerti siswa sebagai salah satu bahan untuk menentukan apakah siswa yang bersangkutan layak naik kelas atau tamat belajar, (3) bentuk perilaku pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa meliputi a) kelompok pelanggaran berat atau pelanggaran A yang pernah dilakukan oleh siswa adalah berkelahi, dengan sengaja merusak raport, memalsukan tanda tangan kepala sekolah dan guru, membawa dan mengedarkan narkoba, dan merusak sarana dan prasarana sekolah, b) kelompok pelanggaran sedang atau pelanggaran B yang pernah dilakukan siswa adalah berperilaku jorok, bertindak tidak sopan terhadap kepala sekolah/ guru/ karyawan dan sesama teman, melakukan sesuatu yang bisa mencemarkan nama baik sekolah dan personel sekolah, melakukan sesuatu yang dapat mengancam keselamatan orang lain dan diri sendiri, membawa atau membunyikan petasan, dan membawa atau merokok di sekolah dan sekitarnya, c) kelompok pelanggaran ringan atau pelanggaran C yang pernah dilakukan siswa adalah meninggalkan sekolah atau pembelajaran tanpa ijin, mengganggu kelancaran KBM, membaca komik/ bacaan yang tidak sesuai dengan pelajaran pada saat jam pelajaran berlangsung, nyontek atau kerjasama pada saat ulangan, tidak mmbawa buku yang sesuai dengan mata pelajaran, berada di tempat parkir pada saat pelajaran/ jam istirahat, tidak mengindahkan panggilan kepala sekolah dan personel sekolah, membawa dan menggunakan handphone saat KBM berlangsung, dan berada di kantin saat KBM berlangsung tanpa alasan jelas, d) kelompok pelanggaran rendah atau pelanggaran D yang dilakukan oleh siswa adalah tidak masuk sekolah tanpa alasan, terlambat masuk sekolah pada jam pertama, datang terlambat mengikuti KBM tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak mengikuti pelajaran tanpa ijin, tidak mengerjakan tugas guru/ PR, (4) perubahan perilaku siswa atas pelanggaran dari sanksi pelaksanaan scorsing system adalah siswa menjadi lebih tertib pada peraturan yang telah ada, siswa menjadi berdisiplin tinggi, siswa menjadi jera atas sanksi atau hukuman yang diterima, selain itu perubahan perilaku pelanggaran disiplin siswa dapat menggunakan strategi pengelolaan diri (self-management) berpengaruh terhadap peningkatan kedisiplinan siswa sehingga strategi self-management tersebut dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk mengurangi perilaku pelanggaran disiplin siswa, dan (5) faktor yang menyebabkan siswa melakukan pelanggaran disiplin adalah a) faktor keluarga, antara lain tidak ada yang bisa membantu bila mengalami kesulitan, kurang perhatian orangtua, suasana rumah yang tidak menyenangkan, dan orangtua bercerai, b) faktor teman sebaya, seperti bergaul dengan orang yang malas melakukan aktivitas (belajar/ sekolah/ bekerja), c) faktor media massa, antara lain pengaruh dari tv, internet, media massa, dan sebagainya sangat berdampak buruk pada perilaku anak terutama ketika di sekolah, dan d) faktor intern (dalam diri siswa), antara lain karena siswa tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah, sulit menangkap pelajaran, malas belajar, bosan dalam mengikuti pelajaran, sulit memahami pelajaran, kesulitan belajar sendiri di rumah, dan merasa kesulitan dalam mengatur waktu.

Berdasarkan hasil penelitian ini, pelaksanaan tata tertib dengan scorsing system yang telah diterapkan di sekolah ini dapat membantu siswa mengurangi melakukan pelanggaran di sekolah maupun di kelas, yaitu dengan membuat suatu program di kelas yang memungkinkan siswa bersangkutan dapat melakukannya tanpa adanya rasa terpaksa atau tertekan atau takut sehingga siswa tersebut benar-benar menyadari bahwa tingkah laku yang dilakukannya tidak baik bagi dirinya dan tidak ingin untuk mengulangi, dan konselor sebaiknya lebih banyak memberikan informasi tentang disiplin, dampak dan pengaruh orang disiplin/ tidak disiplin, memberikan pendekatan secara personel kepada siswa yang sering melanggar dengan memberikan bimbingan pribadi secara intensif, selain itu konselor hendaknya menggunakan strategi self management karena dapat berpengaruh dalam peningkatan disiplin siswa.