SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Antara Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional dengan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas XI di SMA Negeri I Trenggalek

eko fitriani

Abstrak


ABSTRAK Fitriani, Eko.2009. Hubungan Antara Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional dengan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas XI di SMAN 1 Trenggalek. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. Kata Kunci: Konsep Diri, Kecerdasan Emosional, Penyesuaian Sosial Konsep diri adalah pandangan yang dimiliki seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri dari konsep diri positif dan konsep diri negatif. Konsep diri positif ditunjukkan dengan adanya pengetahuan yang realistis (sesuai dengan kenyataan) mengenai kondisi diri individu tersebut. Sedangkan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengelola emosinya dan orang lain untuk mencapai tujuan keberhasilan. konsep diri dan kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam penyesuaian sosial siswa. Dengan konsep diri positif dan kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu siswa untuk melakukan penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial yang baik akan membantu dalam perkembangan dan pencapaian tujuan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui konsep diri siswa, (2) mengetahui kecerdasan emosional siswa, (3) mengetahui penyesuaian siswa, (4) mengetahui hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan penyesuaian sosial siswa. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan populasi seluruh siswa kelas XI di SMAN 1 Trenggalek, tahun ajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster ramdom sampling. Sampel yang diambil adalah kelas tiga kelas yaitu: XI IPA 1, XI IPA 3, dan XI IPS 2. Penelitian ini menggunakan tiga instrumen yaitu: angket konsep diri, angket kecerdasan emosional, dan angket penyesuaian sosial. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik persentase dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki konsep diri sangat positif adalahberjumlah 14 siswa yang memiliki konsep diri tinggi berjumlah 77 siswa dan siswa yang memiliki konsep diri sedang berjumlah 5 siswa. Pada kecerdasan emosional, siswa yang memiliki tingkat kecerdasan emosional sangat tinggi berjumlah 11 siswa, siswa yang memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi berjumlah 78 siswa, dan siswa yang memilki tingkat kecerdasan emosional sedang berjumlah7 siswa. Pada penyesuaian sosial, siswa yang memiliki tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi berjumlah 14 siswa dan siswa yang memiliki tingkat penyesuaian sosial yang tinggi adalah 82 siswa.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, diperoleh nilai R sebesar 0.931. hal ini berarti variabel penyesuaian sosial dapat dijelaskan oleh variabel konsep diri dan kecerdasan emosional sebanyak 93,1% sedangkan sisanya (6,9%) dijelaskan oleh sebab lain. Dengan kata lain, terdapat hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan penyesuaian sosial. Namun, sumbangan konsep diri terhadap penyesuaian sosial lebih lebih besar (69%) jika
dibandingkan dengan kecerdasan emosional (27,8%). Hasil penelitian diperoleh data bahwa sangat banyak siswa yang memiliki tingkat konsep diri positif. Selain itu, sangat banyak siswa yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, dan sangat banyak siswa yang memiliki tingkat penyesuaian sosial yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan bagi kepala sekolah untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu siswa untuk dapat meningkatkan konsep diri dan kecerdasan emosionalnya. Konselor dapat memberikan layanan konseling individu maupun kelompok untuk membantu siswa meningkatkan konsep diri dan kecerdasan emosionalnya, misalnya konseling individu , konseling kelompok, dan bimbingan kelompok. Bagi guru kelas hendaknya melibatkan siswa yang memiliki konsep diri negatif untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran agar siswa lebih percaya diri. Orangtua hendaknya mampu menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya agar anak lebih terbuka. Siswa yang memiliki konsep diri negatif, hendaknya mampu mengetahui kelebihan maupun kekurangannya. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian yang berkaitan dengan konsep diri, kecerdasan emosional, dan penyesuaian sosial. Penelitian tersebut dapat berupa penelitian kualitatif, pengembangan, eksperimen, maupun deskriptif.