SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang serta implikasi bimbingan dan konselingnya

Lilik Sriatmini

Abstrak


ABSTRAK

 

Sriatmini, Lilik. 2009.Perilaku Konsumtif Remaja di SMAN Se-Kota Malang Serta Implikasi Bimbingan dan Konselingnya . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Triyono, M. Pd, (2) Drs. Harmiyanto.

 

Kata kunci: Perilaku konsumtif, Remaja

 

             Perilaku konsumtif remaja yang berlebihan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikis.  Pengaruh budaya asing dari penayangan televisi juga sangat mempengaruhi perilaku konsumtif remaja. Media massa dari penayangan televisi itu remaja mencontoh gaya anak sekarang, sehingga mereka terpengaruh untuk ikut-ikutan gaya yang ada dalam televisi tersebut. Banyaknya mal juga menyebabkan para remaja berperilaku konsumtif yang berlebihan. Selain itu Para remaja terutama remaja sekolah menengah akan gengsi dan merasa malu jika tidak membeli barang-barang yang tidak bermerek dan mereka merasa dikucilkan temannya, meskipun tidak mempunyai uang tetapi mereka akan tetap membeli barang bermerek tersebut sekalipun dengan jalan yang tidak wajar. Hal ini yang membuat remaja kurang terkontrol dalam membelanjakan uangnya sehingga timbullah perilaku konsumtif yang berlebihan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui:

(1) deskripsi perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang, dan (3) dampak perilaku konsumtif remaja di SMAN se-Kota Malang.

            Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa SMA Negeri se-kota Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling, yaitu sampling secara acak dan proporsional. Pengumpulan data menggunakan angket tertutup dengan klasifikasi angket perilaku konsumtif berupa sangat setuju, setuju, kurang setuju dan tidak setuju. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat banyak siswa di SMAN se-Kota Malang (90,61%) menyatakan bahwa mereka berperilaku konsumtif yang berlebihan yaitu membeli barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan. Banyak siswa di SMAN se-Kota Malang menyatakan bahwa faktor lingkungan (88,57%), faktor perbedaan individu (85,57%), pilihan penyalur (55,10%), waktu pembelian (66,94%), menentukan pilihan yang rasional (57,14%), efisiensi dalam berperilaku konsumtif (71,43%) mempengaruhi perilaku konsumtif mereka, sedangkan cukup banyak siswa di SMAN se-Kota Malang juga meyatakan bahwa pilihan produk (54,28%), pilihan merek (57,96%), jumlah pembelian (43,68%) kurang mempengaruhi perilaku konsumtif mereka. Banyak siswa di SMAN se-Kota Malang (79,60%) menyatakan melakukan tindakan- tindakan yang negatif seperti meminjam uang, mencuri, memalak, menipu, berbohong, bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain hanya untuk memenuhi hasrat berbelanjanya. Implikasi bimbingan konseling terhadap perilaku konsumtif siswa yaitu membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri, membantu memandirikan siswa dengan mengajari siswa untuk belajar mencari solusi sendiri dari masalah yang sedang dihadapi yaitu perilaku konsumtif yang berlebihan, serta konselor menjalankan fungsi pencegahan terhadap perilaku konsumtif siswa yang berlebihan yaitu dengan meningkatkan kesadaran diri siswa bahwa banyak dampak yang akan ditimbulkan jika mereka berperilaku konsumtif yang berlebihan. Selain itu siswa mendapatkan layanan secara individual dan kelompok, karena salah satu tujuan bimbingan dan konseling di sekolah adalah untuk membantu siswa memahami diri, membantu untuk memandirikan siswa, serta membantu meningkatkan kesadaran siswa.

Sesuai dengan hasil penelitian, maka saran yang ingin penulis sampaikan, kepada konselor yaitu konselor dapat membantu siswa untuk memahami dirinya, memandirikan siswa dan meningkatkan kesadaran siswa bahwa dengan berperilaku konsumtif yang berlebihan banyak dampak yang akan ditimbulkan. Selain itu yang paling penting adalah konselor memberikan layanan bimbingan dan konseling kelompok dalam bidang pribadi dan sosial, karena bidang pribadi dan sosial sangat mempengaruhi perilaku konsumtif remaja. Konselor juga diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan pihak-pihak terkait seperti wali kelas dan orang tua siswa. Saran bagi wali kelas adalah wali kelas diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik dengn konselor untuk membantu masalah yang dihadapi oleh siswa dalam hal perilaku konsumtif yang berlebihan, serta dengan bantuan dari konselor sekolah wali kelas diharapkan dapat memberikan bimbingan dan informasi mengenai perilaku konsumtif dan dampak yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif yang berlebihan tersebut. Saran bagi orang tua adalah orang tua sebagai orang terdekat siswa hendaknya dapat menjadi model yang baik bagi anak, salah satunya dengan tidak berperilaku konsumtif yang berlebihan, memberikan pengarahan dan dukungan moral, serta dapat menjalin kerjasama yang baik dengan anak. Siswa juga diharapkan dapat menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang negatif seperti memalak, mencuri, menipu, berbohong, dan melakukan tindak kekerasan hanya untuk memenuhi hasrat berbelanjanya. Siswa lebih baik mengisi waktu luang tidak dengan jalan-jalan ke mal tapi dengan melakukan kegiatan yang positif seperti membaca, serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan teman yang bersifat negatif, karena sesuatu yang berlebihan itu biasanya hasilnya tidak baik. Saran bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya lebih memperbanyak dan memperluas jabaran variabel tentang perilaku konsumtif. Peneliti selanjutnya juga perlu meneliti hubungan antara perilaku konsumtif remaja dengan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, serta lebih memperluas kajian penelitiannya pada sekolah-sekolah lainnya seperti SMK dan MA baik negeri maupun swasta.

 

 

 

 

 

 


Teks Penuh: DOC PDF