SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN KEMENARIKAN INTERPERSONAL KONSELOR DAN MOTIVASI SISWA SMA NEGERI DALAM MENGIKUTI BIMBINGAN KELOMPOK DI KOTA MALANG

GURUH SUKMA HANGGARA

Abstrak


ABSTRAK

 

Hanggara, Guruh Sukma. 2009. Hubungan Kemenarikan Interpersonal Konselor dan Motivasi Siswa SMA Negeri dalam Mengikuti Bimbingan Kelompok di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Drs. Djoko Budi Santoso.

Kata kunci: Kemenarikan Interpersonal, Motivasi, Bimbingan Kelompok.

Kemenarikan interpersonal merupakan daya tarik yang dimiliki oleh seorang karena adanya kesan positif yang melekat pada diriorang tersebut, dan merupakan salah satu syarat untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih efektif. Fungsi lain dari kemenarikan interpersonal secara tidak langsung akan membantu untuk mengevaluasi perilaku, yaitu dengan analisa perbandingan sosial. Kemenarikan interpersonal yang kurang dimiliki konselor menyebabkan kedekatannya dengan siswanya menjadi berkurang pula. Minimnya kemenarikan interpersonal tersebut berakibat pada kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti layanan tersebut. Dengan kata lain kemenarikan interpersonal penting untuk membangkitkan motivasi sisiwa dalam menerima layanan bimbingan kelompok yang diberikan oleh konselor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa SMA Negeri dalam mengikuti bimbingan kelompok di kota Malang.

Penelitian ini mengambil obyek penelitian yaitu siswa SMA Negeri di Kota Malang. Sampel penalitian ini sebanyak 246 siswa dari tiga sekolah dari kecamatan yang berbeda yang ada di Kota Malang. Teknik pengambilan sanpel menggunakan multi stage kluster random sampling, jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala kemenarikan konselor dan skala motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok dengan menggunakan penskalaan likert. Analisis deskriptif menggunakan persentase dan kualifikasi variabel. Analisis hipotesisi menggunakan uji korelasional product moment.

Berdasarkan persepsi 246 responden diketahui konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat stabilitas emosional dan moral yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 111 (45,2%) menarik, 6 (2,4%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik karena kestabilan emosional dan moralnya. Sebanyak 51 (20,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi sosial yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 169 (68,7%) menarik, 26 (10,6%)  cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebayak 88 (35,8%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi intelektual yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 115 (46,7%)  menarik,  43 (17,5%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebanyak 100 (40,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat rasa estetika yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 121 (49,1%) menarik, 25 (10,2%) cukup menarik dan tidak ditemukan siswa yang mempersepsi konselornya sebagai pribadi yang kurang menarik.

Sebanyak 101 (41,1%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara intrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 142 (57,7%) termotivasi, 3 (1,2%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Serta sebanyak 25 (10,2%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara ektrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 174 (70,7%) termotivasi, 47 (19,1%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi secara ekstrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Selai itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok (r = 0,622) dengan (p = 0,000 < 0,05) dimana (38,7%), motivasi siswa tersebut ditentukan oleh kemanrikan interpersonal konselor dan (61,3%) ditentukan oleh elemen lain.

Agar motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok, maka aspek kemenarikan interpersonal yang masih harus ditingkatkan adalah: kompetensi sosial, kompetensi intelektual dan rasa estetika, disamping itu konselor harus pandai-pandai menciptakan motivasi eksternal yang dapat ditempuh adalah harus pandai-pandai dalam memberi peguatan, pandai memilih tempat yang tepat untuk penyelenggaraan bimbingan, serta harus kreatif dalam memilih teknik yang digunakan sehingga kegiatan bimbingan kelompok akan lebih menarik. Penekanan kepala sekolah terhadap konselor untuk senantiasa menampakan kemenarikan interpersonal masing-masing merupakan salah satu hal yang bisa membangkitkan motivasi siswa. Dosen dan pimpinan bimbingan dan konseling di lembaga harus segera bergegas dan berbenah untuk kedepan lebih mengedepankan pelatihan-pelatihan ketrampilan berbasis hati. Berdasarkan hasil penelitian ini maka timbullah suatu gagasan supaya LPTK memprogramkan suatu karantina khusus berkenaan dengan penguasaan aspekaspek kemenarikan interpersonal konselor tersebut. Salah satu kebijakan yang bisa dilakukan oleh lembaga terkait adalah dengan menerbitkan semacam rujukan, jurmal ilmiah, melalui berbagai media yang bisa menambah wawasan dan memupuk kemenarikan interpersonal khususnya pada konselor. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada permasalahan yang sama, bisa diusahakan untuk mengkaji masalah ini dengan jangkauan yang lebih luas dengan menambahkan atau mengembangkan variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.


Teks Penuh: DOC PDF