SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan antara Kepribadian dengan Hipertensi

Nova Ika Yasinta

Abstrak


Yasinta, Nova Ika. 2009. Hubungan antara Kepribadian dengan Hipertensi. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si., (II) Anies Syafitri, M. Psi.

 

Kata kunci: Kepribadian, hipertensi, tipe A, tipe B, tekanan darah.

 

Hipertensi menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Jumlah kasus hipertensi meningkat dengan sangat signifikan dari tahun ke tahun. Diperkirakan pada tahun 2025 di negara berkembang terjadi peningkatan kasus hipertensi sekitar 80% dari 639 juta kasus di tahun 2000 menjadi 1,15. Prediksi ini berdasarkan angka penderita hipertensi dan pertambahan penduduk saat ini (Armilawaty dkk., 2007).

Hasil penelitian Oktora (dalam Anggraini, 2009:6) terhadap penderita hipertensi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru pada tahun 2005 menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi meningkat pada kelompok umur 45-54 tahun, yaitu sebesar 24,07%. Peningkatan jumlah penderita hipertensi mencapai puncaknya pada kelompok umur sama dengan atau lebih dari 65 tahun, yaitu sebesar 31,48%. Berdasar hal-hal yang telah dikemukakan di atas maka peneliti berusaha mengungkap dan mengkaji hubungan antara kepribadian dengan hipertensi pada penderita hipertensi yang berusia 45 tahun sampai dengan 60 tahun.

Kepribadian adalah suatu pola khas dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menetap dalam diri individu sebagai bagian dari penyesuaian dengan lingkungan. Kepribadian tipe A memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: memiliki tingkat kesabaran rendah, tergesa-gesa dalam melakukan segala sesuatu, memiliki harapan yang tinggi untuk mencapai kesuksesan, memiliki keinginan yang tinggi untuk bersaing, agresif, dan mudah marah. Kepribadian tipe B memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, santai dalam melakukan segala sesuatu, memiliki harapan yang rendah untuk mencapai kesuksesan, memiliki keinginan yang rendah untuk bersaing, kurang agresif, dan tidak mudah marah. Hipertensi adalah suatu kondisi medis berupa peningkatan tekanan darah melebihi batas normal dalam jangka waktu yang lama, yaitu tekanan sistolik sama dengan atau lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik sama dengan atau lebih dari 90 mmHg.

Subyek yang diteliti dalam penelitian ini adalah pasien penderita hipertensi usia 45-60 tahun di UPTD Puskesmas Mulyorejo, Malang pada bulan Juni 2009. Kepribadian diukur dengan menggunakan skala kepribadian. Data mengenai hipertensi dikumpulkan dengan menggunakan alat untuk mengukur tekanan darah, yaitu sphygmomanometer atau yang biasa disebut dengan istilah tensimeter.

Analisis korelasi menggunakan formula korelasi Product Moment Correlation dengan taraf signifikansi 5%. Analisis menggunakan program SPSS 12.00 for Windows. Data yang digunakan dalam analisis adalah skor kasar subyek pada skala kepribadian dan data tekanan sistolik rata-rata subyek yang diteliti. Hasil analisis menunjukkan rxy = 0,728 dengan p = 0,000, p < 0,05. Dengan demikian hipotesis penelitian yang berbunyi "Ada Hubungan Positif antara Kepribadian dengan Hipertensi" diterima. Artinya, semakin kepribadian cenderung ke tipe A maka semakin tinggi tingkat hipertensi. Atau sebaliknya, semakin kepribadian cenderung ke tipe B maka semakin rendah tingkat hipertensi.


Teks Penuh: DOC PDF