SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

solidaritas sosial remaja sumenep (suatu kajian dalam perspektif fenomenologi pada remaja yang terlibat dalam komunitas geng)

Enggar Wijayanti

Abstrak


ABSTRAK

 

Wijayanti, Enggar. 2012. Solidaritas Sosial Remaja Sumenep (Suatu Kajian dalam Perspektif Fenomenologi pada Remaja Terlibat dalam Komunitas Geng). Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing : (I) Dr. Andi Mappiare A.T, M.Pd (II) Drs. H. Widada, M. Si

 

Kata Kunci : Solidaritas, Geng, Fenomenologi

 

Remaja adalah fase kehidupan transisi menuju kedewasaan, karenanya masa remaja diwarnai oleh upaya-upaya adaptasi dalam bentuk perilaku atau pola pikir yang khas. Salah satu wujud adaptasi remaja adalah anarkisme dan agresifitas yang dikenal dengan istilah geng. Geng memiliki konotasi negatif sebagai kelompok anarkis, pembuat keonaran, kriminal, atau persepsi-persepsi lain yang senada yang menunjukkan bahwa geng adalah kelompok marjinal yang tidak diterima dalam kehidupan masyarakat yang tertib dan beradab.

Penelitian ini menggali lebih jauh  aspek-aspek solidaritas komunitas geng, meliputi bentuk solidaritas, fluktuasi solidaritas, dan dinamika solidaritas.

Subjek penelitian ini adalah anggota-anggota dari sebuah geng di Kecamatan Kota Sumenep yang terdiri dari anak-anak remaja dengan rentang usia antara 14-19 tahun yang mayoritas adalah pelajar sekolah menengah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah peneliti terjun secara langsung mengikuti aktivitas-aktivitas tertentu yang dilakukan subjek dan mendokumentasikan fakta-fakta yang sesuai.

Berdasarkan hasil analisis temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa bentuk solidaritas anggota geng subjek adalah solidaritas mekanik, yaitu solidaritas yang didasari oleh persamaan minat dan pola pikir. Adapun wujudnya adalah partisipasi aktif dalam setiap kegiatan geng. Jika mengabaikan hal ini maka subjek dianggap tidak solider.

Solidaritas mengalami perubahan manakala terjadi konflik antara kepentingan geng dengan kepentingan personal masing-masing subjek (misalnya: kepentingan keluarga). Solusi dari konflik tersebut biasanya melalui 2 cara, yaitu (1) memenangkan salah satu kepentingan, atau (2) mengkompensasikan kedua kepentingan. Yang manapun caranya, setiap solusi memiliki konsekuensi tersendiri.

Solidaritas geng pada awalnya adalah sesuatu yang mengikat. Artinya, setiap anggota geng mutlak memberikan perhatian (pikiran, waktu, tenaga, bahkan harta) secara penuh terhadap komunitasnya. Tak jarang pengikatan seperti ini memicu tindakan anarkis dan kriminal berat. Namun, saat ini solidaritas tak lagi bersifat absolut. Makna solidaritas kini hanya mengakomodasi keikutsertaan dalam kegiatan kelompok. Sanksi atas pelanggaran solidaritaspun saat ini bisa dibilang cukup ringan (seperti harus mentraktir temannya, atau hanya ditegur) tanpa melibatkan aktivitas fisik (dipukuli, dihukum fisik). Jadi, dinamika solidaritas dapat dikatakan berkembang pada arah yang lebih positif.