SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA

Abdurrahman Ahmad

Abstrak


ABSTRAK
Rohman, Abdur. 2009. Hubungan Antara Tingkat Stres dan Status Sosial
Ekonomi Orang Tua dengan Perilaku Merokok Pada Remaja. Skripsi,
Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si,
(II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si.
Kata Kunci : Tingkat Stres, Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Merokok.
Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku
merokok, namun para perokok seakan tetap saja tidak peduli terhadap ancaman
yang dapat menyiksanya dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Berdasar data
Global Youth Tobacco Survey 2006 terbukti jika 24,5 persen anak laki-laki dan
2,3 persen anak perempuan berusia 13-15 tahun di Indonesia adalah perokok, di
mana 3,2 persen dari jumlah tersebut telah berada dalam kondisi ketagihan atau
kecanduan (www.kompas.com). Merokok dengan motif meringankan ketegangan
dan stres menempati urutan tertinggi, yakni sekitar 54,59 persen. Keadaan sosial
ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan (Paavola
dkk, 2004) juga memegang peranan penting dalam perilaku merokok.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) perilaku
merokok pada remaja, (2) tingkat stres pada remaja, (3) status sosial ekonomi
orang tua pada remaja, (4) hubungan antara stres dan perilaku merokok pada
remaja, (5) hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan perilaku
merokok pada remaja, dan (6) hubungan antara tingkat stres dan status sosial
ekonomi orang tua dengan perilaku merokok pada remaja. Desain yang digunakan
adalah deskriptif korelasional dengan teknik pengambilan sampel accidental
sampling. Perilaku merokok diukur dengan skala perilaku merokok, tingkat stres
diukur dengan skala DSI (Daily Stress Inventory) dan status sosial ekonomi orang
tua diukur dengan kuesioner status sosial ekonomi orang tua. Subyek penelitian
adalah 83 Siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. Data yang terkumpul
dianalisa dengan teknik korelasi Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat perilaku merokok pada
remaja berada pada tingkatan sedang, (2) tingkat stres remaja berada pada
tingkatan sedang, (3) status sosial ekonomi orang tua remaja adalah bawah, (4)
terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat stres dan tingkat perilaku
merokok remaja, (5) terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status sosial
ekonomi orang tua dan tingkat perilaku merokok remaja, dan (6) terdapat
hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan status sosial ekonomi orang tua
dengan tingkat perilaku merokok remaja.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak sekolah agar
memberikan penyuluhan dan konseling untuk menyampaikan informasi yang
efektif tentang bahaya merokok, mengadakan program atau kegiatan pelatihan
cara menghadapi stres yang adaptif, dan mengendalikan perilaku merokok remaja
khususnya remaja dari orang tua dengan status sosial ekonomi bawah. Orang tua
hendaknya juga memberikan pemahaman yang tepat kepada anak-anaknya
mengenai bahaya perilaku merokok, memberikan pendampingan kepada anakanaknya
terutama ketika mereka sedang menghadapi stres dan mengarahkan
mereka kepada kegiatan-kegiatan yang positif dalam menghadapi stres dan
memberikan perhatian yang cukup dan melakukan pengawasan yang efektif
terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak mereka dapat mengendalikan,
mengurangi, dan menghentikan perilaku merokok mereka.