SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Efektivitas Penggunaan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa MTs.

FAIDATUR ROBIAH

Abstrak


ABSTRAK

 

Robiah, Faidatur. 2012. Efektivitas Penggunaan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa MTs. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Triyono, M.Pd., (2) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A.

 

Kata kunci: motivasi berprestasi, cinema therapy, film

 

Penelitian efektivitas penggunaan cinema therapy untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa MTs dilatarbelakangi oleh pengaruh globalisasi yang semakin merambah dunia pendidikan. Hal tersebut membuat siswa menghadapi tantangan lebih berat daripada generasi sebelumnya. Kurikulum pendidikan yang menuntut keaktifan siswa dalam memperoleh informasi sendiri menimbulkan persaingan yang ketat. Namun, sangat disayangkan bahwa kebanyakan siswa justru kurang memiliki gairah dalam menghadapi persaingan itu, terutama siswa MTs yang merasa jenuh karena mendapatkan mata pelajaran lebih banyak daripada siswa lain. Salah satu penyebabnya adalah motivasi berprestasi siswa yang rendah. Kurangnya perhatian konselor untuk memberikan layanan bimbingan dengan teknik yang sesuai dan menyenangkan mengenai pentingnya motivasi berprestasi menjadikan topik ini perlu diangkat agar siswa memiliki motivasi berprestasi tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan cinema therapy dalam meningkatkan motivasi berprestasi siswa MTs dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu jenis one group pretest and posttest designe. Subjek penelitian berjumlah delapan orang siswa MTs yang memiliki kriteria motivasi berprestasi rendah yang diukur dengan menggunakan skala motivasi berprestasi siswa MTs berdasarkan kriteria motivasi berprestasi menurut Edward Murray.

Kegiatan penelitian diawali dengan pemberian pretest. Pretest diberikan untuk mengetahui skor negosiasi yang dimiliki siswa sebelum pelaksanaan treatment. Treatment dilakukan dalam sepuluh kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking pada pertemuan pertama dan tujuh kali pertemuan untuk penayangan film. Penerapan cinema therapy memiliki beberapa tahap yang meliputi: penayangan film, diskusi refleksi isi film, refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen dan refleksi pengalaman.

Penelitian ini menggunakan skala motivasi berprestasi yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik non parametrik uji Wilcoxon, dengan perolehan z = -2.524 dan sig = 0,012 (< 0,05). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa cinema therapy efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada postest di akhir pertemuan. Oleh sebab itu, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sbb: (1) aplikasi teknik penggunaan cinema therapy hendaknya mempertimbangkan hal-hal seperti: kesiapan konselor, kesiapan siswa, alokasi waktu, jenis film yang ditayangkan, isi cerita dan amanat yang terkandung dalam film. (2) pengembangan penelitian bagi peneliti yang tertarik untuk mengembangkan cinema therapy agar dapat menggunakan kelompok kontrol dalam pelaksanaan eksperimen, sehingga bisa dilihat perbedaan antara kelompok yang diberikan cinema therapy dan tidak. Selain itu, pemberian posttest dapat diberikan tidak hanya satu kali, sehingga dapat dilihat bahwa peningkatan siswa sifatnya tidak hanya sementara.