SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN MODUL BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL UNTUK MEMBENTUK KETERBUKAAN DIRI SISWA SMP

YUDAN ARI PURWANTO

Abstrak


ABSTRAK

 

Purwanto, Yudan Ari. 2012. Pengembangan Modul Bimbingan Pribadi Sosial Untuk Membentuk Keterbukaan diri Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd, (II) Irene Maya Simon, S.Pd., M.Pd.

 

Kata Kunci: keterbukaan diri, modul, siswa SMP

 

Keterbukaan diri adalah sikap seseorang dalam memberikan informasi positif dan negatif mengenai dirinya kepada lingkungan. Keterbukaan diri perlu dikembangkan, karena sikap terbuka merupakan jalan bagi berkembangnya individu ke arah yang baik. Setiap individu pada dasarnya memiliki sikap keterbukaan diri. Sikap terbuka bisa diajarkan kepada siapa saja, termasuk kepada siswa SMP. Tercatat beberapa tahun belakangan ada fakta mengenai keterbukaan diri remaja SMP, sehingga dikembangkan untuk membantu mencapai perkembangan lebih optimal lagi pada kehidupan selanjutnya.

Bimbingan dan konseling mempunyai banyak teknik dan metode dalam membantu siswa menuju perkembangannya yang optimal, termasuk juga untuk membentuk keterbukaan diri di kalangan remaja SMP. Selama ini penerapan dari teknik dan metode belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media yang bisa membantu siswa untuk membentuk keterbukaan dirinya secara mandiri. Sehingga dipilihlah media yang berupa modul tentang keterbukaan diri yang bisa dipelajari oleh siswa secara mandiri namun masih dalam pengawasan konselor. Penggunaan modul, banyak memiliki keunggulan dibandingkan dengan teknik dan media yang lainnya. Modul keterbukaan diri dapat memandirikan siswa, sehingga siswa bisa belajar secara mandiri tentang keterbukaan diri dan bagi konselor modul keterbukaan diri dapat sebagai data tambahan pemahaman tentang siswa secara mendalam dan dijadikan sebagai tindak lanjut atas kebutuhan siswa.

Diadaptasi dari tahap pengembangan yang dicetuskan oleh Borg and Gall (1983). Namun dalam pengembangan ini hanya memakai empat dari sepuluh tahapan yang dicetuskan oleh Borg and Gall: 1) melakukan need assessment dengan berdasarkan penelitian sebelumnya dipadukan dengan kejadian yang ada dilapangan pada beberapa tahun belakangan ini; 2) memilih metode dan teknik yang sesuai dan akhirnya dipilihlah modul; 3) menyusun draf kasar namun sudah sempurna; 4) melakukan uji ahli terhadap draf modul yang telah dibuat.

Berdasarkan uji ahli yang telah dilakukan yakni uji ahli media dan materi didapatkan data yang berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Dengan kesimpulan keduanya yakni layak. Untuk memperkuat data, pengembang meminta penilaian kepada konselor SMP serta kepada calon konselor dan didapatkan kesimpulan layak untuk diberikan kepada siswa SMP. selanjutnya dilakukan revisi untuk menyempurnakan produk.

Penelitian pengembangan ini mempuyai keterbatasan yakni belum diujikan kepada subjek lapangan baik skala kecil maupun skala besar. Sehingga diharapkan adanya peneliti lain yang bisa melanjutkan penelitian dan pengembangan ini agar nantinya diperoleh sebuah produk yang baik dan benar sesuai dengan tahapan yang dicetuskan oleh Borg and Gall serta bermanfaat bagi konselor dan siswa SMP. Serta bisa didapatkan data-data yang berkaitan dengan keterbukaan diri yang bisa bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.