SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STUDI FENOMENOLOGI MODEL BIMBINGAN PENGEMBANGAN MORAL SANTRI DI KOMPLEK "K" AL-FATTAH PONDOK PESANTREN TEBUIRENG JOMBANG

FATHKUR ROHMAN

Abstrak


ABSTRAK

 

Rohman, Fathkur. 2012. Studi Fenomenologi Model Bimbingan Pengembangan     Moral Santri Di Komplek “K” Al-Fattah Pondok Pesantren Tebuireng       Jombang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu      Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. M. Ramli,      M.A, (2) Dr. Nur Hidayah, M.Pd

 

Kata kunci: bimbingan moral, santri Tebuireng, fenomenologi

 

Menurut Rochmadi (2002) moral sering disinonimkan dengan etika yang berarti kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, atau cara berfikir. Dalam penelitian model bimbingan yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya bimbingan dalam pengembangan kebiasaan, akhlak, sikap, dan cara berfikir. Individu seharusnya memperhatikan nilai-nilai moral yang ada di lingkunganya. Indonesia merupakan bangsa Timur yang menjunjung tinggi moral yang ditunjukkan oleh individu. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan rancangan, pelaksanaan, kendala-kendala, dan solusi dalam bimbingan pengembangan moral santri Pondok Pesantren Tebuireng. Dengan demikian dapat menjadi referensi model pengembangan moral peserta didik. Moral yang baik merupakan hasil dari bimbingan yang dilakukan dengan baik. Moral merupakan hasil dari internalisasi nilai-nilai dalam proses bimbingan. 

Penelitian ini dilakukan di komplek “K” Al-Fattah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dengan mengambil subjek penelitian sebagai berikut: majelis Ilmi, pembina, pengurus, dan santri komplek “K” Al-Fattah.  Penelitian ini menggunakan model kualitatif dengan menerapkan landasan berfikir fenomenologis. Dengan harapan dapat menggali fenomena-fenomena yang ditunjukkan dalam pelaksanaan bimbingan secara aktual dan komprehensif. Dalam pemilihan subjek informan peneliti menggunakan teknik snowball sampling karena teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama- lama menjadi besar. Peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumendasi dalam menggali data penelitian. Data yang diperoleh dari informan selanjutnya di analisis menurut Miles dan Huberman, dimana analisis data kualitatif ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang dilaksanakan secara bersamaan, yaitu : Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Rancangan bimbingan santri Pondok Pesantren Tebuireng berupa jadwal pengajian diniyah, yang disusun oleh Majelis Ilmi. Bimbingan moral santri Pondok Pesantren Tebuireng tercermin dalam prinsip dasar Pondok Pesantren Tebuireng yaitu sikap ikhlas, jujur, tanggungjawab, bekerja keras, tasamuh/ toleransi. Kelima aspek sikap dasar santri Pondok Pesantren Tebuireng dibentuk melalui bimbingan perilaku keseharian santri. Dalam pelaksanaan bimbingan pengurus dan pembina pasti menemukan kendala-kendala yang harus dihadapi, kendala yang dihadapi dalam membimbing santri terdiri dari 3 (tiga) aspek, yaitu (1) niat santri yang masuk pondok pesantren karena permintaan orang tua, (2) lokasi lingkungan yang menjadi pusat jalan raya yang menghubungkan beberapa kota, sehingga santri bisa dengan leluasa keluar pondok pesantren tanpa ijin, (3) suasana pondok pesantren yang ramai dan sangat modern menjadikan santri konsumtif dan mengganggu pelaksanaan bimbingan kepada santri. Untuk meminimalisir kendala-kendala yang dihadapi selama proses bimbingan penulis menemukan beberapa solusi yang dilakukan oleh pondok pesantren sebagai berikut: (1) pengadaan musbakh, kegiatan ini sama halnya dengan kegiatan orientasi yang dilakukan pada awal santri masuk pondok pesantren. Kegiatan ini dilakukan untuk memperbaiki serta memotivasi santri untuk memiliki tujuan sebagai santri yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren yang diaplikasikan dengan rajin belajar, (2) kegiatan akhirsanah, dengan harapan dapat memotivasi santri untuk terus berkembang ke tujuan yang lebih baik, kegiatan ini identik dengan pemberian reward, (3) pemberian model (modelling), kegiatan bimbingan dengan memberikan model kepada para santri. Pengurus, ustads, dan pembina memberikan model perilaku yang baik secara langsung maupun memberikan contoh-contoh perilaku yang patut di teladani. Perilaku yang sesuai dengan harapan Pondok Pesantren Tebuireng.

Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagi pondok pesantren, diharapkan dapat memuat bimbingan moral secara konkret kedalam pelatihan maupun program dari komplek dan pondok pesantren, (2) bagi santri, diharapkan dapat lebih cooperatif untuk mengikuti setiap kegiatan bimbingan yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Tebuireng, (3) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian dengan subjek penelitian dari keseluruhan komplek. Peneliti selanjutnya juga dapat memfokuskan pada satu aspek sikap moral santri.