SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Paket Keterampilan Sosial Siswa SMAN 10 Malang yang Tinggal di Asrama

Anom Dian Wicaksono

Abstrak


ABSTRAK

 

Wicaksono, Anom Dian. 2011. Pengembangan Paket Keterampilan Sosial Siswa SMAN 10 Malang yang Tinggal di Asrama.  Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd., (II) Dr. M. Ramli, M.A.

 

Kata Kunci: paket, keterampilan sosial, siswa yang asrama

 

Implementasi kurikulum nasional (KTSP) yang didukung Undang-undang Sisdiknas 2003 memberikan kesempatan kepada sekolah dan daerah untuk mengembangkan program-program unggulan sesuai dengan karakteristik sekolah dan daerah masing-masing. Sekolah dapat mengembangkan secara mandiri program-program unggulan mereka. Sampoerna Academy SMA Negeri 10 Malang adalah program mandiri SMAN 10 Malang yang menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota Malang. Sampoerna Academy SMA Negeri 10 Malang merupakan hasil kerjasama antara Sampoerna Foundation dengan Pemerintah Kota Malang dan Propinsi Jawa Timur. SMAN 10 Malang menggunakan kurikulum internasional dari Cambridge University (IGCSE) dan KTSP. Siswa SMAN 10 Malang sebagian besar tinggal di asrama (boarding education) yang merupakan keunggulan dari sekolah yang bersangkutan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan konselor dan angket kebutuhan siswa asrama SMAN 10 Malang, diperoleh fakta bahwa masalah siswa yang sering dialami siswa yang tinggal di asrama adalah interaksi sosial. Siswa yang tinggal di asrama cenderung mempunyai ego yang lebih tinggi karena mereka tinggal dengan orang lain dan orang yang baru dikenalnya. Masalah yang sering muncul adalah masalah pertemanan, masalah adaptasi dengan lingkungan asrama maupun lingkungan sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan penanganan yang tepat untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan sosialnya. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan paket bimbingan peningkatan keterampilan sosial siswa SMA Negeri 10 Malang yang tinggal di asrama.

Model pengembangan yang digunakan yaitu adaptasi model pengembangan Borg & Gall (1983) yang terdiri dari tujuh langkah, yaitu: melakukan perencanaan yang terdiri atas kegiatan kajian pustaka, need assessment, dan menetapkan jenis keterampilan sosial yang akan diberikan pada siswa berdasarkan need assessment; mengembangkan produk, terdiri atas kegiatan pengembangan sebagai berikut: merumuskan tujuan Paket Keterampilan Sosial; menyusun prototipe paket keterampilan sosial; menyusun alat evaluasi produk; melakukan uji ahli; revisi produk dari uji ahli; uji lapangan atau uji calon pengguna produk; dan melakukan revisi terhadap produk akhir. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket dan wawancara.

Hasil penelitian meliputi “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” dibagi dalam empat materi yaitu keterampilan saling mengenali dan membangun kepercayaan dengan individu lain, keterampilan berkomunikasi secara tepat dan jelas dengan individu lain, keterampilan menerima dan membantu antar individu, dan keterampilan manajemen konflik dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil penilaian ahli, calon pengguna, dan kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa prototipe “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” memadai dilihat dari derajat keberterimaannya (acceptable). Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian ahli pada aspek ketepatan mendapatkan penilaian sangat tepat, aspek kegunaan mendapatkan penilaian berguna; aspek kepraktisan mendapatkan penilaian sangat praktis; dan aspek kemenarikan mendapatkan penilaian menarik. Disamping itu penilaian oleh kelompok kecil juga mendapat kriteria layak, sehingga bisa disimpulkan bahwa hasil pengembangan paket telah valid dan layak digunakan.

Berdasarkan temuan penelitian ini diajukan beberapa saran sebagai berikut: Pertama, sekolah mempertimbangkan penggunaan “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” sebagai program pengembangan keterampilan sosial di kalangan siswa. Hal itu disebabkan biaya yang diperlukan untuk memprodukasi paket ini cukup terjangkau. Penggunaan paket dapat dilakukan secara mandiri oleh siswa, dan/atau didampingi oleh supervisi secara terbatas oleh guru Bimbingan dan Konseling. Supervisi dapat dilakukan sesuai kebutuhan tanpa harus mengganggu kegiatan belajar mengajar yang diprogramkan secara rutin, serta hasil pendekatan ini lebih akomodatif sesuai dengan karakteristik siswa. Kedua, Peneliti selanjutnya yang tertarik menggunakan “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” hendaknya melakukan uji coba   kepada subyek yang lebih besar dan heterogen, misalnya untuk siswa jenjang kelas XI dan XII.