SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA FANATISME TERHADAP IDOLA DENGAN KONSEP DIRI SISWA KELAS X DAN XI SMAN 3 MALANG

FAJARIYAH RAHMAWATI

Abstrak


ABSTRAK

 

Rahmawati, Fajariyah. 2009. Hubungan antara Fanatisme terhadap Idola dengan Konsep Diri Siswa Kelas X dan XI SMAN 3 Malang . Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. IM Hambali, M. Pd (2) Drs. Djoko Budi Santoso

 

 

Kata kunci: fanatisme terhadap idola, konsep diri, realistis.

 

Masa remaja merupakan masa transisi yang di dalamnya terdapat proses pencarian jati diri. Dalam proses pencarian jati diri tersebut remaja cenderung memiliki sosok idola yang dikaguminya, sehingga dapat mengidentifikasi sikap dan tingkah laku idola tersebut. Namun tak jarang mereka ingin menjadi identik seperti idolanya tanpa berpikir kritis dan rasional, maka remaja tersebut dapat menjadi seseorang yang bukan dirinya atau tidak realistis. Dapat dikatakan remaja tersebut telah kehilangan jati dirinya atau memiliki konsep diri yang rendah, sehingga mereka tidak mampu menempatkan dirinya secara realistis dan tidak dapat memahami keadaan diri sebagaimana adanya.

Tujuan penelitian adalah untuk: (1) mengetahui tingkat fanatisme siswa  SMAN 3 Malang terhadap idola, (2) mengetahui tingkat konsep diri siswa   SMAN 3 Malang, dan  (3) untuk mengetahui hubungan antara  fanatisme idola dengan  konsep diri siswa SMAN 3 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dengan populasi penelitian adalah siswa SMAN 3Malang kelas X dan XI. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen inventori, data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum  siswa   memiliki tingkat fanatisme terhadap idola yang rendah dengan prosentase 78,63% .Adapun dalam kategori lainnya yaitu siswa yang memiliki tingkat fanatisme yang tinggi terhadap idola  dengan persentase 21,37%, sedangkan dalam kategori sangat tinggi dan sangat rendah memiliki persentase yang sama yaitu 0 %  atau tidak ada siswa yang memiliki tingkat fanatisme dalam klasifikasi tersebut. Secara umum siswa kelas X dan XI SMAN 3 Malang memiliki tingkat konsep diri yang tergolong dalam kategori tinggi dengan persentase  73,50%, sedangkan dalam kategori sangat tinggi dengan persentase 16,24%, kemudian dalam kategori rendah memperoleh persentase 10,26%. Namun tidak terlihat adanya siswa yang memiliki tingkat konsep diri yang sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan program komputer SPSS diketahui bahwa r hitung  lebih besar daripada r tabel yaitu -0,545 > 0,180. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa H1 diterima secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara fanatisme terhadap idola dengan  konsep diri siswa kelas X dan XI SMAN 3 Malang.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan ketika konselor menghadapi siswa yang memiliki tingkat fanatisme yang rendah dan konsep diri tinggi hendaknya memberikan layanan-layanan bimbingan dan konseling dengan fungsi bimbingan yang bersifat pengembangan, misalnya layanan informasi. Sebaliknya, ketika konselor menghadapi siswa yang memiliki tingkat fanatisme yang tinggi dan konsep diri rendah  hendaknya memberikan layanan-layanan bimbingan dan konseling dengan fungsi bimbingan yang bersifat pengentasan, diantaranya memberikan layananan informasi, bimbingan dan konseling kelompok, konferensi kasus dan home visit.