SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Pemberian Reward Dan Punishment Untuk Mengurangi Perilaku Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Siti Hartinah

Abstrak


ABSTRAK

 

Hartinah, Siti. 2009. Pengaruh Pemberian Reward Dan Punishment Untuk Mengurangi Perilaku Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si., (II) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, Psikolog.

 

Kata kunci: modifikasi perilaku, ADHD

Anak yang memiliki keadaan khusus sehingga membutuhkan penanganan yang khusus pula disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Salah satu jenis anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan suatu gangguan yang terdapat pada anak-anak dimana anak memperlihatkan impulsivitas, tidak adanya perhatian dan hiperaktivitas (hyperactivity) yang dianggap tidak sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Anak-anak yang menderita ADHD sering kali menunjukkan gejala tidak adanya konsentrasi, hiperaktif, dan impulsif. ADHD adalah gangguan perkembangan yang mempunyai onset gejala sebelum usia 7 tahun. Reward merupakan hadiah yang diberikan kepada anak ADHD apabila anak tersebut telah melakukan perilaku yang diharapkan dan dapat berupa konsekuensi yang menyenangkan. Sedangkan punishment adalah hukuman yang diberikan ketika anak tidak memunculkan perilaku yang diharapkan.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental. Desain penelitian yang digunakan adalah ekaperimental Single-Subject Design atau bisa juga disebut Single Case Experimental Design. Sampel yang digunakan sejumlah dua orang (N=2). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji t. Uji t memperlihatkan bahwa ada perbedaan frekuensi pada tahap Baseline I (A1) dan Baseline II (A2) maupun pada tahap Baseline II (A2) dan treatment II (B2) pada tingkat signifikansi 0.05 pada masing-masing subyek. Pada subyek 1, perbandingan Baseline I (A1) dan Baseline II (A2) menggunakan uji t sebesar 5,835 dan hasil perbandingan Baseline II (A2) dan treatment II (B2) sebesar 4,754. Pada subyek 2, perbandingan Baseline I (A1) dan Baseline II (A2) sebesar 6,013 dan hasil perbandingan Baseline II (A2) dan treatment II (B2)  sebesar 7,425.

Hasil perhitungan mean (rata-rata) memperlihatkan bahwa semua subyek mengalami penurunan pemunculan target perilaku pada masing-masing tahap. Berdasarkan perhitungan Mean, subyek 1 rata-rata kemunculan perilaku tahap Baseline I sebesar 8,208, tahap Treatment I sebesar 7,521. Tahap selanjutnya yaitu tahap Baseline II, sebesar 6,830. Tahap Treatment II, sebesar 6,250. Hal serupa juga terjadi kepada Subyek 2 yang mengalami penurunan kemunculan perilaku pada setiap tahap penelitiannya. Tahap Baseline I, rata-rata kemunculan target perilaku sebesar 9,542, tahap Treatment I sebesar 9,291. Tahap Baseline II, sebesar 9,00. Tahap Treatment II, sebesar 8,092.

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diberikan saran kepada beberapa pihak diantaranya: (1) para peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian yang akan dilakukan selanjutnya lebih dipersiapkan baik dalam jumlah sampel, program modifikasi perilaku, maupun kontrol lingkungan serta memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. (2) orang tua ABK, diharapkan dapat menerapkan metode modifikasi perilaku dalam pola pengasuhan di rumah. Serta, (3) lembaga terapi, diharapkan dengan pemberian reward dan punishment sebagai salah satu sarana terapi bagi anak ADHD.