SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

INTERAKSI SOSIAL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KELAS INKLUSI: STUDI INTERAKSIONISME SIMBOLIK MENGENAI KOMUNIKASI SISWA DI SMK NEGERI 2 MALANG

Uswatun Khasanah

Abstrak


ABSTRAK

 

Khasanah, Uswatun. 2011. Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kelas Inklusi Studi Interaksionisme Simbolik mengenai Komunikasi Siswa di SMKN 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd., (II) Dr. Andi Mappiare AT., M.Pd.

 

Kata kunci: Interaksi sosial, komunikasi, siswa ABK, kelas inklusi

 

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara orang perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Interaksi sosial juga terjadi di kelas inklusi. Di dalam kelas inklusi, interaksi melibatkan siswa ABK, siswa reguler dan guru.  Dalam berinteraksi dengan lingkungaannya, siswa ABK memiliki karakteristik khas, yang berbeda dengan interaksi pada umumnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kesamaan paham siswa ABK di kelas inklusi SMKN 2 Malang, (1) perbedaan paham siswa ABK di kelas Inklusi, (3) koneksitas karakteristik khas siswa ABK dengan perbedaan paham yang terjadi di kelas inklusi, (4) konsekuensi interaksional yang muncul di kelas inklusi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis interaksionisme simbolik; dilakukan di SMKN 2 Malang dengan subjek siswa ABK di kelas inklusi APH 1. Teknik pengumpulan data: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dideskripsikan, dimaknai, dikatagorisasikan dan dibuat koneksitas antar data yang telah ditemukan. Keabsahan data diuji dengan, (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) trianggulasi sumber.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesamaan paham dalam berinteraksi di kelas inklusi  terjadi ketika pengirim pesan mengkomunikasikan obyek yang konkrit. Sedangkan perbedaan paham dalam berinteraksi di kelas inklusi  terjadi ketika pengirim pesan mengkomunikasikan obyek yang abstrak. Kesalahpahaman terjadi dalam interaksi sosial di kelas inklusi pada siswa ABK yang mempunyai karakteristik sensitif dan spontan. Diterima atau ditolaknya siswa ABK di kelas inklusi bukan karena kesalahpahaman yang terjadi dalam proses berkomunikasi, akan tetapi karena karakteristik masing-masing siswa ABK di kelas inklusi. Siswa ABK yang pendiam, spontan, lucu, apa adanya cenderung bisa diterima dan disenangi di kelas inklusi. Sedangkan siswa ABK yang sensitif, mudah tersinggung,  percaya diri yang berlebihan, suka berbohong, cenderung kurang diterima dan dijauhi oleh teman di kelas inklusi.

Saran: (1) konselor hendaknya memberikan bimbingan mengenai cara berempati terhadap sesama siswa di kelas inklusi; (2) Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi  hendaknya memasukkan kelompok  mata kuliah ABK dalam mata kuliah wajib, bukan mata kuliah pilihan; (3) peneliti lanjut disarankan untuk mengadakan penelitian lanjut terhadap fenomena serupa dengan latar yang berbeda dan dengan multi subjek.