SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Persepsi Pasien terhadap Komunikasi Terapeutik Fisioterapis dengan Kepuasan Pasien di Instalasi Rehabilitasi medik Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

Sarlinastiti Citra Hayu Sarjono

Abstrak


ABSTRAK

 

Sarjono, Sarlinastiti Citra Hayu. 2011. Hubungan Persepsi Pasien terhadap Komunikasi Terapeutik Fisioterapis dengan Kepuasan Pasien di  Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah  Sakit  Saiful Anwar Malang.  Skripsi,  Program Studi  Psikologi,  Jurusan  Bimbingan  Konseling  dan  Psikologi,  Fakultas Ilmu  Pendidikan,  Universitas  Negeri  Malang.  Pembimbing  :  (I)  Fattah Hidayat, S.Psi., S..E M.Si., (II) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi.

 

Kata Kunci: Persepsi pasien terhadap komunikasi terapeutik fisioterapis, kepuasan pasien

 

Rumah  sakit  sebagai  industri  mempunyai  fungsi  sosial  dan  ekonomi. Persaingan dalam  industri  jasa adalah dengan memberikan pelayanan yang cepat, tepat,  dan  handal.  Untuk  memenangkan  persaingan,  rumah  sakit  harus  mampu memberi kepuasan pada pasien (Supranto, 2001). Faktor kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan akan mempengaruhi  jumlah kunjungan. Apabila pasien  tidak puas  (misal:  menunggu  terlalu  lama,  “provider”  kurang  ramah,  ketrampilannya kurang)  akan  membuat  pasien  kecewa.  Faktor  kepuasan  pasien  juga  dapat menciptakan persepsi masyarakat tentang citra rumah sakit (Wirijadinata, 2009).

Instalasi Rehabilitasi Medik adalah salah satu instansi di rumah sakit yang bukan  hanya membutuhkan  obat-obatan  bagi  para  pasiennya,  tetapi  juga  latihan dan  terapi  yang  rutin  sebagai  sarana  kesembuhan  pasiennya  sehingga membutuhkan komunikasi terapeutik yang baik dari fisioterapis. Tentunya persepsi pasien  terhadap  komunikasi  terapeutik  yang  dilakukan  oleh  fisioterapis  akan mempengaruhi  kepuasan  pasien  itu  juga.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian deskriptif  dan  korelasional  dengan  besaran  sampel  berjumlah  100  pasien  yang ditentukan  dengan  teknik  incidental  sampling. 

Hasil  uji  validitas  aitem  persepsi pasien  terhadap komunikasi  terapeutik  fisioterapis  diperoleh  nilai  validitas  antara 0.205  sampai  0.795  dan  penghitungan  reliabilitas  dengan  koefisien  alpha cronbach  0.931.  sedangkan  untuk  hasil  uji  validitas  aitem  kepuasan  pasien diperoleh  nilai  validitas  antara  0.205  sampai  0.808  dan  penghitungan  reliabilitas dengan  koefisien  alpha  cronbach  0.963. 

Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa terdapat  hubungan  positif  antara  persepsi  pasien  terhadap  komunikasi  terapeutik fisioterapis  dengan  kepuasan  pasien  di  Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah  Sakit Saiful Anwar Malang  (rxy = 0.899,  sig.= 0.000 < 0.05). Artinya  semakin  positif persepsi  pasien  terhadap  komunikasi  terapeutik  fisioterapis maka  semakin  tinggi kepuasan  pasien  tersebut.  Hasil  analisis  deskriptif  menunjukkan  bahwa  dari  45 pasien  Instalasi  Rehabilitasi  Medik  Rumah  Sakit  Saiful  Anwar  Malang,  yang memiliki persepsi positif terhadap komunikasi terapeutik fisioterapis ada 27 pasien (60%)  dan  yang  memiliki  persepsi  negatif  terhadap  komunikasi  terapeutik fisioterapis sebanyak 18 pasien (40%). Sedangkan dari 45 pasien, yang mempunyai kepuasan  tinggi  sebanyak  7  pasien  (16%),  sedangkan  yang  memiliki  kepuasan sedang  sebanyak 31 pasien  (68%),  dan 7  orang pasien  (16%) memiliki  epuasan yang rendah.

Berdasarkan hasil penelitian  ini, dapat disarankan kepada  : (1) fisoterapis: untuk meningkatkan kompetensi komunikasi terapeutik dalam melakukan interaksi dengan  pasien  untuk  meningkatkan  kepuasan  pasien.  (2)  Institusi  Pendidikan Fisioterapis: diharapkan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada fisioterapis terkait  penerapan  komunikasi  terapeutik  (3)  peneliti  selanjutnya:  Terkait  dengan keterbatasan  peneliti  pada  penelitian  ini,  maka  peneliti  selanjutnya  diharapkan dapat  lebih  memperdalam  penelitian  ini  dari  segi  sampel  dan  waktu  penelitian sehingga validitas dari variabel-variabel tersebut dapat dijamin.