SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN ASERTIFITAS MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ANGKATAN 2006 DITINJAU DARI PERBEDAAN STANDAR BUDAYA JAWA DAN MADURA

Hanif Mustafiddin

Abstrak


ABSTRAK

 

 

Mustafiddin, Hanif. 2009. Perbedaan Asertifitas Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2006 ditinjau dari Perbedaan Standar Budaya Jawa dan Madura. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Dra. Elia Flurentin, M.Pd

 

Kata Kunci: Perilaku asertif, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, budaya Jawa, budaya Madura.

 

Mahasiswa dalam menyelesaikan studinya tidak akan terhindar dari adanya permasalahan baik bersifat akademik maupun non akademik. Ada mahasiswa yang mengalami hambatan dengan interaksi dan komunikasinya. Oleh karena itu dalam hubungan antar mahasiswa harus memiliki keterampilan sosial untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak dulu pergaulan para mahasiswa tidak lagi terbatas pada lingkungan rumah dan kampus saja, mahasiswa harus melakukan penyesuaian baru di masyarakat yang baru, terutama bagi mahasiswa dari perantauan. Keadaan ini akan memberikan peluang bagi mahasiswa untuk membuat perilaku-perilaku baru. Misalnya perilaku-perilaku baru itu adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan berkomunikasi secara terbuka pada orang lain merupakan salah satu ciri-ciri orang yang mempunyai perilaku asertif. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang selalu menjunjung tinggi sikap hormat terhadap oranglain dan menanamkan sikap hormat itu mulai dari sejak kecil melalui pendidikan keluarga yang melalui tiga tingkatan, yaitu wedi, isin, sungkan. Masyarakat Madura adalah masyarakat yang mempunyai perangai, sikap dan perilaku yang tegas. Dalam berinteraksi dengan orang lain perangai, sikap dan perilaku itu akan muncul. Bentuk dari ketegasan ini adalah perangai, sikap dan perilaku spontan dan ekspresif. Orang Madura hampir tidak mengenal perangai, sikap dan perilaku basa-basi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) asertifitas mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2006 yang berasal dari Jawa, (2) asertifitas mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2006 yang berasal dari Madura dan (3) perbedaan asertifitas antara mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2006 yang berasal dari Jawa dan yang berasal dari Madura.

            Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2006, sampel berjumlah 64 orang, dalam penentuan sampel dengan menggunakan teknik proporsional random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan angket yang terdiri dari 74 item pernyataan. Analisis hasil penelitian menggunakan persentase dan uji-t.

            Hasil penelitian menunjukkan : (1) mahasiswa berasal dari Jawa yang keterampilan asertifnya tinggi sebesar 42 % dan keterampilan asertif sedang 58 %, (2) mahasiswa berasal dari Madura yang memiliki keterampilan asertif tinggi sebesar 28,6 %, dan keterampilan asertif sedang 71,4 %, (3) hasil analisis komparatif tidak ada perbedaan keterampilan asertif antara mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling yang berasal dari Jawa dan Madura (p = 0.431 > 0,05), meskipun dilihat nilai mean (rata-rata) tampak terlihat bahwa perilaku asertif mahasiswa Jawa lebih tinggi (220.7400) dibandingkan mahasiswa dari Madura (217.5000).

            Berdasarkan hasil tersebut ada beberapa saran yang diberikan oleh penulis, yaitu kepada Dosen Pembimbing Akademik diharapkan dapat membantu meningkatkan perilaku asertif  mahasiswa  terutama dalam mengembangkan afirmasi dirinya dan mampu menyatakan perasaan negatifnya agar dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik sehingga mengarah pada keseimbangan pribadi dan menjauhkan dari ketidakseimbangan yang mengarah pada perilaku agresif maupun pasif. Selanjutnya bagi penulis selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian pada subyek yang lebih luas lagi sehingga dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya yang juga mengetengahkan masalah perilaku asertif. Hendaknya penelitian ini dapat dilakukan dengan teknik dan cara yang lebih beragam (wawancara,dll) sehingga data yang diperoleh lebih lengkap dan maksimal serta dapat dikembangkan lebih luas lagi.