SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Keefektifan Konseling Kelompok Realitas Untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa Kelas X Di MA Almaarif Singosari Malang

Lailatuz Zakiyah

Abstrak


ABSTRAK

Zakiyah, Lailatuz.2011. Keefektifan Konseling Kelompok Realitas untuk. Mengurangi Perilaku Membolos Siswa di MA Almaarif Singosari Malang Skripsi. Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd, Pembimbing (II) Dr. Triyono, M.Pd

 

Kata Kunci:

Membolos termasuk dalam kenakalan remaja, di mana dapat diartikan perbuatan melanggar aturan, perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial. Membolos merupakan suatu bentuk perbuatan untuk melalaikan kewajiban belajar di sekolah. Bimbingan konseling sebagai bagian integral dari pendidikan, mempunyai tanggungjawab mengatasi masalah membolos siswa di sekolah melalui pelayanan bimbingan dengan cara-cara dan teknik bimbingan konseling yang bersifat tidak menghukum. Konseling realitas memandang konseling sebagai suatu proses yang rasional. Konselor diharapkan mampu memerankan sebagai guru yang menciptakan situasi kondusif mengajar, memberi contoh serta mengajak konseli untuk menghadapi realita hidup. Oleh karena setiap orang, termasuk siswa selalu dihadapkan pada kenyataan, maka pendekatan ini tepat untuk diterapkan oleh konselor dalam menangani masalah-masalah psikologis dan perilaku-perilaku/perbuatan yang tidak realistis atau yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan konseling kelompok realitas untuk mengurangi perilaku membolos siswa di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dengan one group pre-test and post-test design dan juga menggunakan pendekatan kualitatif dengan menginterpretasikan setiap pertanyaan konseli. Subjek penelitian ini adalah 8 siswa kelas X MA Almaarif Singosari-Malang yang memiliki perilaku membolos.

Penelitian dilakukan dalam dua kegiatan utama. Kegiatan pertama adalah penyusunan bahan perlakuan dalam bentuk panduan pelaksanaan konseling kelompok realitas berupa naskah tertulis. Secara rinci model pengembangannya berisi prosedur pelaksanaan konseling kelompok realitas dengan model W-D-E-P (wants, doing, evaluation, planning). Kegiatan kedua, yaitu pelaksanaan konseling kelompok realitas dengan menggunakan panduan konseling yang telah diuji kelayakannya. Pengumpulan data menggunakan catatan presensi siswa dan teknik statistik non parametrik yang akan digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah uji jenjangbertanda Wilcoxon (Wilcoxon's Signed Rank Test) jenis data penelitian ini adalah ordinal, selain itu uji Wilcoxon tidak menerapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan penelitian. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi membolos siswa pada saat sebelum dan sesudah pemberian perlakuan konseling kelompok realitas.

Berdasarkan analisis penelitian yang menggunakan uji jenjang-bertanda Wilcoxon (Wilcoxon's Signed Rank Test),menghasilkan nilai z hitung adalah – 2,527. Dan z tabel bisa dihitung pada tabel z, dengan α = 5%, maka luas kurva normal adalah 50% - 5% = 45% atau 0,45. Pada tabel z, untuk luas 0,45 didapat angka z tabel sekitar – 1,645 (tanda “-“ menyesuaikan dengan z output). Oleh karena z output > z tabel (- 2,527 > - 1,645), maka Ho ditolak. ii Kemudian, dari uji z terlihat bahwa pada kolom Asymp. Sign 2-tailed untuk uji dua sisi adalah 0,012. Oleh karena kasus ini adalah uji satu sisi, maka probabilitasnya menjadi 0,012:2 = 0,006. Disini terdapat probabilitas dibawah 0,05 (0,006< 0,05). Sehingga Ho ditolak yang berarti bahwa ada perbedaan perilaku membolos subjek sebelum dan sesudah mengikuti konseling. Jadi bisa juga diartikan konseling kelompok realitas efektif untuk mengurangi perilaku membolos siswa di MA Almaarif Singosari Malang. Analisis juga diungkapkan melalui metode kualitatif yaitu dengan menginterpretasikan setiap pernyataan konseli dari setiap tahap konseli yang diikuti. Subyek penelitian mengungkapkan bahwa frekuensi membolos yang selama ini dilakukan mulai berkurang setelah mengikuti konseling kelompok realitas selama 6 kali tahapan. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, maka diajukan beberapa saran, sebagai berikut: 1) Konseling kelompok realitas berpengaruh terhadap pengurangan perilaku membolos siswa, sehingga konselor hendaknya menggunakan konseling kelompok realitas untuk membantu siswa yang memiliki perilaku membolos. 2) Dalam rangka peningkatan keefektifan konseling kelompok realitas, penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan eksperimen dengan kelompok pembanding, karena penelitian ini menggunakan metode penelitian “one group pre test post test design” yang dilakukan tanpa adanya kelompok pembanding. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara siswa yang di berikan perlakuan konseling kelompok realita dengan siswa yang tidak di berikan perlakuan konseling kelompok realitas. 3) Setelah pelaksanaan konseling kelompok realitas, diharapkan bagi siswa yang menjadi konseli dapat mengurangi dan menghilangkan dengan perlahan perilaku membolos yang biasa dilakukan. 4) Kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah masih belum maksimalnya pengurangan perilaku membolos siswa karena proses konseling kelompok realitas yang terlalu singkat yaitu 6 tahapan dan 6 kali pertemuan.

Untuk penelitian selanjutnya diharapkan perlakuan melalui proses konseling kelompok realitas dapat dilakukan lebih dari 6 kali pertemuan. 5) Disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk memilih permainan yang dapat menimbulkan keterlibatan antaranggota dan rasa saling percaya untuk menjaga rahasia antaranggota kelompok. dikarenakan mengacu padaPerilaku Membolos, Konseling Kelompok Realitas.