SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN PERSEPSI TERHADAP BAHAYA MEROKOK ANTARA REMAJA PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK DI SMA NEGERI 3 BONDOWOSO

Izatul Millah

Abstrak


 

 

Millah, Izatul. 2009. Perbedaan Persepsi terhadap Bahaya Merokok antara Remaja Perokok dan Bukan Perokok di SMA Negeri 3 Bondowoso. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd. (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si.

 

Kata Kunci: Persepsi, Bahaya Merokok, Remaja, Perokok, Bukan Perokok

 

Perilaku merokok yang semakin marak di kalangan remaja, dimungkinkan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap bahaya merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja perokok, dan (2) pada remaja bukan perokok, serta (3) perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif komparatif pada populasi seluruh siswa kelas X dan XI  SMA Negeri 3 Bondowoso, tahun ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik stratified random sampling dengan cara mengundi tiap-tiap tingkatan kelas sebanyak dua kelas. Data diambil dengan menggunakan angket, dan dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t.

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa perokok yang memiliki persepsi tepat terhadap bahaya merokok sebesar 66,1% dan tidak tepat sebesar 27,1% serta sangat tepat sebesar 6,8%, (2) siswa bukan perokok yang memiliki persepsi sangat tepat terhadap bahaya merokok sebesar 70,1% dan persepsi tepat sebesar 29,9%, dan (3) ada perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok (t = 12,335 dan sig = 0,000 < 0,05), dan persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja bukan perokok lebih tepat dibandingkan dengan remaja perokok (selisih mean = 24,75655).

            Remaja perokok ternyata juga memiliki persepsi yang tepat terhadap bahaya merokok, karena itu penyuluhan bahaya merokok dimungkinkan kurang efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok, maka disarankan untuk kepala sekolah membuat kebijakan dengan memberikan sanksi tegas bagi seluruh personil sekolah yang merokok di sekolah. Bagi konselor hendaknya memberikan layanan konseling dengan pendekatan behavioral (membuat kontrak perilaku) guna menghentikan kebiasaan merokok dan mengadakan konseling kelompok dengan mendatangkan mantan pecandu rokok yang berhasil berhenti merokok sebagai model untuk berbagi pengalaman dengan siswa perokok sedangkan bagi siswa bukan perokok konselor dapat memberikan bimbingan kelompok tentang bagaimana cara menghadapi tekanan dari teman perokok sehingga siswa dapat menghadapi dan menolak rayuan untuk merokok. Bagi siswa perokok hendaknya mengikuti terapi berhenti merokok, dan bagi siswa bukan perokok hendaknya memiliki keberanian untuk menegur teman yang merokok disekitar mereka. Bagi orangtua, hendaknya memberikan dukungan sosial pada anak untuk berhenti dan menghindari merokok. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian eksperimen untuk menghentikan kebiasaan merokok serta mengembangkan media pengetahuan mengenai bahaya merokok.