SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan antara Career Self Efficacy dan Pengambilan Keputusan Karier Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo

Qori Rizka Rizkiana

Abstrak


ABSTRAK

 

Rizkiana, Qori Rizka. 2011. Hubungan antara Career Self Efficacy dan Pengambilan Keputusan Karier Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) H. Widada, M.Si, (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A

 

Kata kunci : career self efficacy, pengambilan keputusan karier

 

Siswa SMA sebagai remaja hanya perlu diberi bimbingan karier agar dapat menguasai keterampilan keputusan karier secara tepat. Remaja belajar dan berlatih membuat rencana, memilih alternatif keputusan, bertindak sesuai dengan hasil keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Siswa yang memiliki keterampilan pengambilan keputusan, tidak akan bingung menghadapi karier masa depannya.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat career self efficacy siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (2) Bagaimana pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (3) Apakah ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo?.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo tahun pelajaran 2010/2011. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Tahap pertama dari 17 SMA Negeri yang ada di Kabupaten Probolinggo ditentukan 4 sekolah dan diambil secara random dengan teknik undian. Tahap berikutnya dari setiap sekolah yang terpilih sebagai kelompok sampel, selanjutnya ditentukan jumlah subyek yang dijadikan anggota sampel, dan juga diambil secara random dengan teknik undian. Peneliti mengambil 13% dari jumlah populasi yang ada, sehingga sampel ditentukan sebanyak 225 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa inventori career self efficacy dan inventori pengambilan keputusan karier.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) sangat banyak siswa (90,2%) yang memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang, sangat sedikit siswa (9,8%) yang memiliki career self efficacy dalam kategori tinggi, dan tidak ada siswa yang memiliki career self efficacy rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang; (2) cukup sedikit siswa (46,2%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan dalam kategori tinggi, cukup sedikit pula siswa (53,8%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang dan tidak ada siswa yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier yang rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang; (3) ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier sebesar rxy=0,346 dan probability error diperoleh sebesar 0,000 sehingga penambahan tingkat career self efficacy diikuti dengan penambahan tingkat pengambilan keputusan kareir atau penurunan tingkat career self efficacy akan diikuti dengan penurunan tingkat pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier diterima.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa career self efficacy dapat memberikan kontribusi positif dalam pengambilan keputusan karier, diharapkan siswa dapat meningkatkan career self efficacy-nya. Peningkatan career self efficacy dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan karier secara intensif kepada siswa. Konselor perlu melakukan penajaman program di bidang karier agar siswa semakin memahami diri terutama yang berhubungan dengan masalah-masalah karier siswa di masa depan. Dalam menyusun materi bimbingan karier, konselor diharapkn melakukan analisis kebutuhan agar konselor lebih memahami siswa yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan kariernya. Selain itu, konselor perlu mengadakan konseling khusus untuk penjurusan siswa, sehingga penjurusan tidak hanya berdasarkan kriteria nilai.