SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Korelasi antara Harga Diri dan Perilaku Asertif Siswa Sekolah Menengah Pertama se Kecamatan Bululawang

Novi Ria Santi

Abstrak


ABSTRAK

 

Santi, Novi Ria. 2011. Korelasi antara Harga Diri dan Perilaku Asertif Siswa Sekolah Menengah Pertama se Kecamatan Bululawang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Karir dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si, (II) Ninik Setiyowati, S.Psi, M.Psi.

 

Kata Kunci: harga diri, perilaku asertif

 

Di kalangan siswa SMP ditemukan fenomena yang erat kaitannya dengan harga diri siswa, diantaranya perilaku membolos, merokok serta melanggar peraturan-peraturan di sekolah dengan alasan untuk menjaga solidaritas. Mereka merasa tidak mampu menolak ajakan itu yang menunjukkan bahwa mereka takut berperilaku asertif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada korelasi antara harga diri dengan perilaku asertif pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Bululawang. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif dan korelasional. Sampel penelitian sejumlah 318 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Alat pengumpul data berupa skala harga diri yang terdiri dari 48 aitem dan skala perilaku asertif yang terdiri dari 38 aitem. 

Dengan hasil penelitian yaitu: (1) sebagian besar siswa memiliki harga diri yang tinggi atau sehat, (2) sebagian besar siswa sudah mampu berperilaku asertif, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dan perilaku asertif, artinya semakin tinggi harga diri siswa maka akan semakin asertif perilaku siswa, demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar (1) kepala sekolah mengagendakan pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas. Untuk kemudian mendukung pengadaannya dan selanjutnya untuk dievaluasi, (2) guru BK memasukkan bahasan mengenai harga diri dan perilaku asertif pada kurikulum BK. Mendampingi dalam pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas (role play, pelatihan berbicara di depan umum dan tukar pendapat), (3) guru memberikan reward (bisa berupa pujian atau hadiah) pada siswa dengan harga diri rendah, jika menunjukkan perilaku yang sesuai keinginan guru; menegur siswa yang tampak bingung dengan materi yang diberikan namun malu bertanya; mengadakan diskusi kelompok untuk merangsang siswa berperilaku asertif, (4) bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian yang bersifat kuantitatif seperti studi kasus agar dapat melihat secara lebih mendalam mengenai harga diri yang bagaimana yang mampu meningkatkan perilaku asertif siswa dan melihat kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku asertif pada siswa, (5) psikolog agar mengembangkan pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas yang sesuai dengan usia remaja.