SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Perilaku Merokok Terhadap Memori Jangka Panjang Pada Perokok

Dwita Ayuningtyas

Abstrak


ABSTRAK

 

Ayuningtyas, Dwita. 2011. Pengaruh Perilaku Merokok terhadap Memori Jangka Panjang pada Perokok. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Program Studi Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Alwisol, M.Pd. (II) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi.

 

Kata kunci: perilaku merokok, memori jangka panjang, perokok

 

Banyak perokok mengatakan mereka tidak dapat berfikir kalau tidak sambil merokok. Ingatan yang kacau tiba-tiba menjadi cerah ketika mereka mulai menghisap rokok. Padahal secara biofisiologi, kadar nikotin yang ada di dalam darah akan mengurangi catu oksigen ke otak, yang berarti kinerja otak akan terganggu, bukan sebaliknya kinerja otak menjadi lebih lancar. Penelitian ini akan mencoba membuktikan pengaruh merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian Pretest-Posttest Control Group Design. Desain ini melakukan pengukuran sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian treatment. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pemberian tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah naskah cerita, lembar soal, blangko (lembar jawaban), dan rokok. Subjek penelitian diminta menjawab soal berdasarkan cerita, dimana nantinya subjek penelitian akan dilihat skor ingatannya melalui tes materi tersebut. Setelah skor ingatan didapat, maka selanjutnya dilakukan proses analsis data.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh perilaku merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok, yaitu ingatan perokok ketika di tes sambil merokok lebih rendah dibandingkan dengan ingatan tanpa merokok. Kedua, ada perbedaan antara ingatan jangka panjang pada perokok dan non-perokok, yaitu ingatan pada perokok lebih rendah dibandingkan ingatan non-perokok. Ketiga, ada hubungan antara lamanya menjadi perokok (dalam tahun) dengan ingatan jangka panjang pada perokok, dimana terjadi korelasi yang negative antara keduanya yaitu semkain lama seseorang menjadi perokok maka semakin rendah ingatannya. Keempat, ada hubungan antara jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) dengan ingatan jangka panjang, dimana terjadi korelasi yang negative juga diantara keduanya, yaitu semakin banyak jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) maka semakin rendah ingatannya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka sarannya sebagai berikut: (1) bagi para perokok, diharapkan untuk berhenti merokok, karena efek negatif yang dimunculkan oleh rokok secara perlahan dapat sangat membahayakan diri dan orang-orang disekitarnya, (2) bagi para orang tua, diharapkan dapat membantu dan mengambil peran dalam proses sosialisasi anak dengan lingkungan, terutama ketika anak menginjak masa remaja karena kebanyakan pada masa inilah seorang anak mulai mengenal rokok dari pergaulannya. Orang tua sebagai publik figure  juga harus memberi contoh tidak merokok dan menjaga supaya anak-anaknya tidak merokok, (3) bagi masyarakat, diharapkan dapat ikut berpartisipasi membantu pemerintah dalam rangka menertibkan perokok yang merokok di tempat-tempat yang tidak semestinya , misalnya di Rumah Sakit, lingkungan kantor pemerintahan, atau tempat umum lainnya yang dapat mengganggu orang di sekitarnya dengan lebih menggalakkan kampanye anti merokok, (4) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan informasi-informasi yang ditanyakan dalam tes materi penelitian ini dibuat lebih jelas dan spesifik, agar tidak terjadi perbedaan persepsi diantara subjek penelitian, (5) bagi peneliti selanjutnya, sebelum penelitian diadakan peneliti tidak melakukan pengukuran IQ terhadap subjek penelitian karena keterbatasan waktu sehingga diharapkan peneliti selanjutnya melakukan pengukuran tingkat IQ subjek penelitian, dan mengambil subjek berdasarkan tingkatan IQ yang sama, sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih baik, (6) bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini hanya menggunakan 30 orang untuk kelompok eksperimen, dan 30 orang untuk kelompok kontrol, dimana jumlah ini dirasa masih kurang untuk penelitian semacam ini, sehingga akan jauh lebih baik jika jumlah subjek yang dipakai dalam penelitian selanjutnya ditambah.