SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA PEMBELAJARAN GURU DENGAN SIKAP GURU TERHADAP UJIAN NASIONAL PADA GURU SMA

Febrina Mariana

Abstrak


ABSTRAK

 

Mariana, Febrina Dian. 2010. Hubungan antara Pembelajaran Guru dengan Sikap Guru terhadap Ujian Nasional pada Guru SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Alwisol, M.Pd, (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M.Psi.

 

Kata Kunci : Pembelajaran Guru, Sikap Guru, Ujian Nasional.

 

Ujian Nasional menjadi kontroversi karena (UN) dipandang sebagai sarana evaluasi kinerja pembelajaran guru dan pelayanan sekolah. tekanan psikologis yang dihadapi oleh guru SMA. enghadapi kebijakan UN menimbulkan reaksi poditif dan negative. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Apakah ada hubungan antara pembelajaran guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional; (2) Apakah usia, pengalaman mengajar, dan mata pelajaran yang diajarkan guru membedakan sikapnya terhadap ujian nasional.

Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif korelasional. Teknik sampel yang digunakan adalah adalah quota random. Besarnya sampel adalah 35 orang guru SMAN 1 Malang. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari angket persepsi siswa tentang pembelajaran guru di kelas, dan skala sikap guru terhadap Ujian Nasional. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasional,analisis regresi, dan uji t-test.

Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Terdapat hubungan yang positif anatara pembelajaran guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional. Nilai rxy = 0,699, signifikan pada 0,000. (2) Terdapat variasi sikap guru terhadap Ujian Nasional antara : a). guru yang usianya >48 tahun dengan guru yang usianya ≤ 48 tahun; b). guru yang masa kerjanya >15 tahun dengan guru yang masa mengajarnya ≤ 15 tahun; c). guru yang mata pelajarannya diujikan dengan guru yang mata pelajarannya tidak diujikan dalam Ujian Nasional. Klasifikasi guru yang disebut lebih dahulu bersikap lebih positif terhadap ujian nasional dibanding klasifikasi guru yang disebut belakangan.

Guru hendaknya meningkatkan kemampuan pembelajarannya, sehingga Ujian nasional tidak menjadi beban psikologis bagi yang bersangkutan. Guru hendaknya menyadari bahwa sikap negatif terhadap ujian nasional tidak produktif, karena kebijakan itu mau tidak mau harus dilaksanakan. Ujian Nasional seharusnya ditanggapi guru dengan kerja keras dan peningkatan profesionalisme pembelajarannya.. Bagi peneliti selanjutnya dapat memasukkan variabel-variabel yang lebih komprehensif  untuk meneliti sikap guru terhadap ujian nasional, seperti ,variabel status favorit sekolah, model kepemimpinan kepala sekolah, dan lokasi/daerah di mana sekolah itu berada.