SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Efektivitas Konseling Kelompok Realita untuk Mengurangi Kebiasaan Menyontek Siswa

Retno Dewi

Abstrak


ABSTRAK

 

Dewi, Retno. 2010. Efektivitas Konseling Kelompok Realita untuk Mengurangi Kebiasaan Menyontek Siswa. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A. (II) Dr. Hj. Nur Hidayah, M. Pd

 

Kata Kunci: Konseling Kelompok Realita, Kebiasaan Menyontek

 

Menyontek merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi pelajar. Setiap siswa ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, dan karena itu berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Banyak orang beranggapan menyontek sebagai masalah yang biasa saja, namun ada juga yang memandang serius masalah ini. Bentuk-bentuk kebiasaan ini dapat berupa: menjiplak atau mencontoh pekerjaan teman, bertanya langsung saat menghadapi ujian, membuka catatan kecil saat ujian, mencari bocoran soal ulangan, membuka buku saat ulangan, meminta teman untuk mengerjakan tugasnya dan tukar menukar soal yang terdapat jawaban di dalamnya

Fakta adanya pelanggaran kebiasaan menyontek oleh siswa harus segera diatasi. Oleh karena itu perlu dikemukakan satu pendekatan bercorak konseling yang dapat dipergunakan sebagai model layanan konseling bagi konselor untuk mengatasi masalah kebiasaan menyontek siswa. Pendekatan yang diajukan adalah konseling Kelompok Realita (Reality Theraphy).

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan konseling kelompok realita dalam mengurangi kebiasaan menyontek siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan one group pre-test and post-test design dan juga menggunakan pendekatan kualitatif dengan menginterpretasikan setiap pernyataan konseli. Subjek dari penelitian ini adalah 8 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang memiliki skor kebiasaan menyontek tinggi. Pengumpulan data menggunakan angket tertutup dan teknik statistik non parametrik yang akan digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah sign test (uji tanda), dikarenakan data dalam penelitian ini merupakan data berskala ordinal selain itu sampelnya saling berkorelasi.

Dari hari penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan skor kebiasaan menyontek siswa pada saat sebelum dan sesudah pemberian perlakuan konseling kelompok realita. Selain analisis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berupa uji tanda, analisis juga dilakukan melalui pendekatan kualitatif, yaitu dengan menginterpretasikan setiap pernyataan konseli dari setiap tahap konseli yang diikuti. Subjek penelitian mengungkapkan bahwa kebiasaan menyontek yang selama ini dilakukan mulai berkurang setelah mengikuti konseling kelompok realita selama 6 kali tahapan. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima, artinya konseling kelompok realita efektif digunakan untuk mengurangi kebiasaan menyontek.

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut: (1) konseling kelompok realita berpengaruh terhadap pengurangan kebiasaan menyontek siswa, sehingga konselor hendaknya menggunakan konseling kelompok realita untuk membantu siswa yang memiliki  kebiasaan menyontek, (2) dalam rangka peningkatan keefektifan konseling kelompok realita penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan eksperimen dengan kelompok pembanding, karena penelitian ini menggunakan pendekatan one group pre test post test design  yang dilakukan tanpa adanya kelompok pembanding. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan perbedaan antara siswa yang diberikan perlakuan  konseling kelompok realita dengan siswa yang tidak diberikan perlakuan konseling kelompok realita, (3) setelah pelaksanaan konseling kelompok realita, diharapkan bagi siswa yang menjadi konseli dapat mengurangi dan menghilangkan dengan perlahan kebiasaan menyontek yag biasa dilakukan, (4) kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah masih sedikitnya pengurangan kebiasaan menyontek siswa, karena proses konseling yang terlalu cepat dengan 6 tahapan dan tiga kali pertemuan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan perlakuan melalui proses konseling kelompok realita dapat dilakukan selama 6 kali tahapan dengan 6 kali pertemuan, (5) disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk memilih permainan yang dapat menimbulkan kohesifitas kelompok, dan rasa saling percaya untuk menjaga rahasia antar anggota kelompok, (6) begitu juga dalam pemilihan video, film atau bacaan dalam mengawali proses konseling disarankan untuk memilih tema yang disesuaikan dengan masalah yang akan diselesaikan.