SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbedaan Kematangan Emosi Siswa Kelas VIII Reguler dan Siswa Kelas VIII RSBI

Silfia Susanti

Abstrak


ABSTRAK

 

Susanti,  Silfia.  2010.  Perbedaan  Kematangan  Emosi  Siswa  Kelas  VIII  Reguler dan  Siswa  Kelas  VIII  RSBI.  Skripsi,  Jurusan  Bimbingan  Konseling  dan Psikologi  FIP  Universitas  Negeri  Malang.  Pembimbing:  (I)  Drs.  H. Widada. M. Si, (II) Drs. Harmiyanto.

 

Kata kunci: Kematangan emosi, reguler, RSBI, SMP

 

Kematangan  emosi  merupakan  hal  yang  berperan  penting  dalam kehidupan  dan  perilpenulis  individu  untuk  mengontrol  ekspresi  dan  juga membantu  individu  untuk  menyelesaikan  permasalahannya.  Menurut Goleman  (1999;7)  kematangan  emosi  adalah  kemampuan  untuk menyelesaikan  problem-problem  pribadi  tanpa  adanya  keselarasan  antara gangguan perasaan dan ketidakmampuan untuk mempertimbangkan pendapat orang  lain  terhadap  keinginan-keinginan  individu  sesuai  dengan  harapan masyarakat  dan  kemampuan  untuk  mengungkapkan  emosi  yang  tepat sehubungan dengan pengertian kita terhadap orang lain. 

Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  (1)  Kematangan emosi siswa kelas VIII Reguler, (2) Kematangan emosi siswa kelas VIII RSBI (3)  Perbedaan  kematangan  emosi  antara  siswa  kelas  VIII  Reguler  dengan siswa kelas VIII RSBI di SMP Negeri 5 Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam usaha menguji hipotesis  yang  telah  disusun. Dalam  penelitian  yang  bersifat  kuantitatif  ini, proses  penelitian  banyak  menggunakan  angka  mulai  dari  pengumpulan, penafsiran  dan  penyajian  hasil  (Arikunto,  2006;  12).  Rancangan  yang digunakan dalam penelitian  ini  adalah deskriptif komparatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membandingkan kesamaan dan perbedaan suatu gejala, peristiwa  dan  masalah-masalah  yang  ada  sekarang  (Arikunto,  2006;58).

Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu kematangan emosi siswa  kelas VIII  Reguler  dan  siswa  kelas VIII  RSBI. Variabel  kematangan emosi  dijabarkan  dalam  indikator  dan  deskriptor.  Alasan  penggunaan rancangan penelitian  jenis deskriptif komparatif  adalah karena  rancangan  ini sesuai  dengan  tujuan  peneliti.  Penelitian  yang  dilakukan  di  sini  bertujuan untuk memperoleh  deskripsi mengenai  perbedaan  tingkat  kematangan  emosi siswa kelas VIII Reguler dan siswa kelas VIII RSBI

Populasi  dalam  penelitian  ini  adalah  siswa  kelas VIII RSBI  dan  siswa kelas VIII  reguler  sejumlah  202  orang  siswa.  Teknik  yang  digunakan  untuk penarikan  sampel  penelitian  adalah  cluster  random  sampling  dan  total sampling. Cluster  random  sampling  digunakan  untuk  penarikan  sampel  dari siswa kelas VIII Reguler  dan diperoleh  siswa kelas VIIIA, VIIIB dan VIIIC sejumlah  112  orang  siswa,  sedangkan  total  sampling  digunakan  untuk penarikan  sampel  dari  kelas  VIII  RSBI  dan  diperoleh  90  orang  siswa. Pengumpulan  data  menggunakan  angket  kematangan  emosi.  Analisis  data dengan presentase dan uji-t.

Beberapa  kesimpulan  yang  diperoleh  adalah,  sedikit  (11,17%)  siswa  program  Reguler  yang  kematangan  emosinya  baik,  cukup  banyak  (48,64%) siswa  program  reguler  yang  kematangan  emosinya  cukup,  cukup  banyak (39,63%)  pula  siswa  program  reguler  yang  kematangan  emosinya  kurang baik.  Jadi  dapat  dilihat  dari  hasil  penelitian  tersebut  bahwa  siswa  program reguler  sebagian besar memiliki  tingkat kematangan emosi yang cukup baik. Sedikit  (12,79%)  siswa  program  RSBI  yang  kematangan  emosinya  kurang baik,  cukup  banyak  (25,58%)  siswa  program  RSBI  yang  kematangan emosinya  baik,  banyak  (61,62%)  siswa  program  RSBI  yang  kematangan emosinya  cukup  baik.  Jadi  dapat  dilihat dari  hasil  penelitian  tersebut  bahwa siswa program RSBI sebagian besar memiliki tingkat kematangan emosi yang cukup baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan mean, diketahui bahwa dari 202  subjek  yang  termasuk  siswa program  reguler memiliki  rata-rata  230,1261.  Sedangkan  siswa  RSBI  memiliki  rata-rata  228,1628.

Berdasarkan  hasil  perhitungan  uji-t,  diketahui  bahwa  bahwa  kedua  rata-rata populasi  adalah  identik karena nilai Sig.  (0,422) > 0,05. dan  thitung  (0,804) < ttabel  (1,972).  Sehingga  dari  hasil  uji  hipotesis  diketahui  bahwa  tidak  ada perbedaan  kematangan  emosi  antara  siswa  program  RSBI  dengan  siswa program reguler

Beberapa  saran  yang  dapat  diberikan  oleh  peneliti  diantaranya; sebaiknya, guru  lebih meningkatkan hubungan dengan  siswa. Selain  itu guru juga diharapkan dapat bersikap lebih terbuka dengan siswa dan tidak menilai siswa  dari  sikap  dan  perilpenulis  mereka  yang  sudah  lebih  baik  dari sebelumnya. Hal  ini dapat menjadikan siswa kurang memahami akan dirinya sendiri  dan  berpengaruh  pada  semangat  belajar  siswa  di  sekolah.  Untuk  konselor,  konselor  dapat  (1) meningkatkan  kesadaran  diri  dan  sosial  siswa, konselor  dapat  mengajak  siswa  untuk  belajar  di  luar  ruangan  dan  juga meningkatkan  pemahaman  akan  lingkungan  di  sekitar  tempat  tinggal  siswa. Konselor  dapat memberikan  tugas  kepada  siswa  untuk membuat  otobiografi siswa,  dengan  begitu  siswa  dapat  lebih memahami  dirinya  sendiri  dan  juga lingkungan sekitar siswa, (2) selain  itu, konselor  juga dapat membantu siswa untuk  mengatur  jadwal  harian  siswa  berkaitan  dengan  pengaturan  waktu. Ketrampilan sosial siswa dapat dikembangkan dengan sosiaodrama, konselor juga dapat mengetahui hubungan sosial siswa di kelas dengan memberikan tes sosiometri kepada siswa. (3) Orang tua siswa diharapkan terus memperhatikan perkembangan  anaknya,  khususnya  hubungan  sosialnya  dan  membangun komunikasi  terbuka dengan anak, misalnya  : diskusi mengenai permasalahan anak. Selain itu, orang tua siswa sebaiknya menumbuhkan sikap disiplin pada siswa  sejak dini. Hal  ini dimaksudkan agar  anak dapat memiliki manajemen waktu  dan  manajemen  diri  yang  baik,  sehingga  anak  tidak  meluapkan emosinya secara tidak teratur.

Untuk lebih meyakinkan hasil penelitian ini, maka hendaknya diadakan penelitian  berkelanjutan  tentang  kematangan  emosi  siswa RSBI  dan  reguler pada  tahun-tahun  selanjutnya.  Karena  hasil  dari  penelitian  ini  belum  tentu sama  jika  dilpenuliskan  penelitian  di  tempat  yang  berbeda,  dengan  karakter yang berbeda maupun karakter siswa yang sama.