SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Sikap Dasar Konselor dan Teknik Pengubahan Tingkah Laku Khas Budaya Indonesia: Sebuah Studi Perspektif Hermeneutika Gadamerian atas Teks Mengenai Dakwah Walisongo

Sari Titisandy

Abstrak


ABSTRAK

 

Titisandy, Sari. 2010. Sikap Dasar Konselor dan Teknik Pengubahan Tingkah Laku Khas Budaya Indonesia: Sebuah Studi Perspektif Hermeneutika Gadamerian atas Teks Mengenai Dakwah Walisongo. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd., (II) Dra. Henny Indreswari, M.Pd.

 

Kata kunci: konselor, sikap dasar, pengubahan tingkah laku, khas budaya  Indonesia, dakwah Walisongo.

 

Perkembangan agama Islam di Jawa tidak lepas dari upaya Walisongo yang senantiasa melakukan dakwah mengenai Islam pada masyarakat Jawa. "Walisongo" berarti sembilan Wali yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Mereka adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Sikap-sikap terkenal Walisongo adalah bijaksana dan peka dalam beradaptasi dengan masyarakat Jawa. Itu semua dapat diserap sebagai sikap dasar bagi konselor Indonesia yang khas budaya Indonesia. Dalam praktiknya, konselor kurang memiliki sikap dasar yang layak sebagai konselor profesional. Konselor diharapkan memiliki sikap atau kualitas kepribadian yang ditunjukkan oleh para Wali, sehingga konselor dapat dipercaya, dihormati, dan disegani oleh konseli. Kinerja yang disertai sikap dasar kurang layak konselor seperti menghakimi konseli, menghukum konseli, atau tidak memahami kebiasaan konseli dapat menimbulkan rasa tidak nyaman konseli. Untuk itu, konselor diharapkan mampu mengaplikasikan sikap-sikap dan teknik pengubahan perilaku yang digunakan oleh Walisongo. Hal ini hendaknya dilakukan oleh konselor agar konseli merasa aman, nyaman, dan mempercayai konselor.

Penelitian ini berfokus pada: 1) Apa dan bagaimanakah sikap dasar Walisongo yang dapat diserap menjadi sikap dasar konselor yang khas budaya Indonesia?, 2) Apa dan bagaimanakah teknik pengubahan perilaku yang digunakan Walisongo yang dapat diserap oleh konselor menjadi teknik pengubahan perilaku dalam konseling yang khas budaya Indonesia?.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe Hermeneutika Gadamerian, yaitu cara menafsirkan teks-teks lama sehingga didapatkan suatu informasi baru yang sesuai dengan jaman sekarang. Adapun tahap-tahap dari penelitian ini adalah: mengumpulkan teks dan buku-buku sumber, penafsiran praandaian, dan pemaparan realitas secara historis.

Dalam penelitian ini, ada dua bagian kesimpulan atau hasil penelitian yaitu: pertama, ada sembilan sikap dasar konselor berdasarkan sikap Walisongo; dan kedua, ada tiga teknik pengubahan tingkah laku yang digunakan Walisongo dalam menyebarkan ajaran agama Islam pada masyarakat Jawa. Sikap dasar dan teknik pengubahan tingkah laku oleh Walisongo itu dapat diserap oleh konselor sebagai sikap dasar dan teknik pengubahan tingkah laku yang khas budaya Indonesia. Sikap dasar yang dimaksud adalah: 1) toleran, 2) rela berkorban, 3) bertanggung jawab, 4) peka, 5) penerimaan dan empati, 6) luwes atau fleksibel, 7) egaliter, 8) respek atau penuh perhatian, dan 9) narima ing pandum yang diuraikan dalam lima sifat (rela, narima, temen, sabar, dan budi luhur). Adapun tiga teknik pengubahan tingkah laku Walisongo yang dapat diserap oleh konselor adalah: 1) klarifikasi nilai, 2) teknik seni/art, dan 3) modeling.

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar konsep temuan atau penteorian yang telah dipaparkan di sini dijadikan sebagai pedoman dan acuan oleh konselor dalam bimbingan dan konseling dengan nilai-nilai dan budaya khas Indonesia.  Konselor dapat mengetahui dan memahami ciri kepribadian atau sikap dasar dan teknik pengubahan perilaku oleh Walisongo yang terkandung dalam nilai-nilai dan budaya Indonesia sebagaimana ditemukan dalam teks dakwah Walisongo. Di samping itu, dari hasil-hasil penelitian ini, konselor dapat meningkatkan kompetensi pribadi dengan cara mempelajari dan menyerap sikap dasar yang dimiliki Walisongo yang telah dipaparkan dalam penelitian ini. Diharapkan konselor mengaplikasikan sikap dasar Walisongo yang khas budaya Indonesia, misalnya, peka terhadap budaya yang dimiliki oleh konseli, peka terhadap konseli yang segera memerlukan bantuan konselor, luwes dalam menghadapi konseli, mempelajari karakter konseli, kebiasaan, budaya, serta adat istiadat yang dimiliki oleh konseli. Konselor juga dituntut bersikap egaliter dalam arti mengutamakan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan konseli. Konselor juga diharapkan menggunakan teknik pengubahan perilaku yang digunakan oleh Walisongo yang telah ditemukan dalam wacana Walisongo untuk membantu konseli, misalnya konselor menggunakan teknik seni/art. Konselor diharapkan memiliki jiwa seni dan kreatif dalam memberikan bantuan kepada konseli, misalnya meminta konseli membuat puisi dengan arahan tema dari konselor dalam penyusunan komitmen atau kontrak perilaku untuk pengubahan perilaku konseli.  Untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini berguna sebagai bahan pustaka dalam kegiatan penelitian lebih lanjut tentang nilai-nilai budaya Indonesia, khususnya dakwah Walisongo dalam hubungannya dengan bimbingan dan konseling.