SKRIPSI Jurusan Administrasi Pendidikan - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN DI SMAN SE-KOTA PROBOLINGGO

Mochamad Anggoro Dwidianto

Abstrak


ABSTRAK

Dwidianto, Mochamad Anggoro. 2009. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Maisyaroh, M.Pd. (II) Dr. H. Achmad Supriyanto, M.Pd, M.Si.

Kata kunci: pengelolaan, sarana dan prasarana pendidikan.

    Menurut Bafadal (2008:1) "pengelolaan merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Tim Pakar Manajemen Pendidikan (2003:86) "pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien". Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti bahwa Kota Probolinggo merupakan penerima Piala Adipura yang ketiga kali, selain itu beberapa sekolah juga menerima Piala Adiwiyata Tingkat Nasional untuk Lomba Sekolah Berbudaya Lingkungan dan Rancangan Sekolah Berstandar Internasional, karena itu peneliti ingin mengetahui apakah pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di SMAN se-Kota Probolinggo sudah dilaksanakan atau belum.
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses: perencanaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan, penggunaan sarana dan prasarana pendidikan, penghapusan barang inventaris di SMA Negeri se-Kota Probolinggo. Subjek penelitian ini adalah seluruh personel sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan pegawai tata usaha sekolah. Lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri di Kota Probolinggo.
    Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini memiliki satu variabel yaitu variabel pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan. Populasi penelitian adalah seluruh personel SMA Negeri Se-Kota Probolinggo yang berjumlah 281 orang. Sampel penelitian berjumlah 165 orang yang tersebar di 4 SMAN Se-Kota Probolinggp. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive proportional random sampling. Pengambilan data menggunakan angket tertutup.
    Hasil penelitian menunjukkan: (1) proses perencanaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah mengadakan rapat perencanaan sarana dan prasarana sekolah, (b) membuat susunan rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, (c) menyeleksi sarana dan prasarana yang telah direncanakan dengan melihat dana yang tersedia, dan (d) menetapkan rencana pengadaan akhir sarana dan prasarana sekolah. Proses tersebut sebagian besar sudah sering dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (2) proses pengadaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) menganalisis apa saja kebutuhan dan fungsi sarana dan prasarana sekolah, (b) mengklasifikasikan sarana dan prasarana apa saja dibutuhkan, (c) sekolah membuat proposal pengadaan sarana dan prasarana yang ditujukan kepada pemerintah, dan (d) sekolah melakukan pengadaan dengan beberapa cara. Proses tersebut sebagian besar sudah sering dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (3) proses pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah melakukan perawatan terus-menerus, berkala, dan darurat, (b) sekolah melakukan pemeliharaan yang sifatnya sehari-hari, dan (c) perbaikan sarana dan prasarana yang sifatnya ringan dilakukan oleh pihak sekolah sendiri, tetapi apabila kerusakannya berat sekolah mendatangkan teknisi dari luar. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (4) proses inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) melaksanakan kegiatan pengadministrasian barang inventaris dengan memasukkan ke dalam buku induk barang inventaris, buku golongan barang inventaris, buku catatan barang non inventaris, daftar laporan triwulan, mutasi barang inventaris, daftar rekap barang inventaris, (b) memberi kode sarana dan prasarana di sekolah, dan (c) membuat laporan triwulan dan tahunan barang inventaris. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; (5) proses penggunaan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah mengatur sendiri petunjuk pemakaian sarana pendidikan yang di beli kepada produsen, (b) mendeskripsikan sendiri dalam bentuk gambar atau tulisan petunjuk pemakaian sarana pendidikan yang baru di beli,  (c) menegaskan kembali teknik penggunaan sarana pendidikan yang baru, melalui pelatihan atau memberi contoh penggunaan barang dari pihak yang telah memahami penggunaan barang tersebut, dan (d) sekolah menyesuaikan intensitas penggunaan sarana dan prasarana dengan kepentingan dari pemakai. Proses tersebut sebagian besar selalu dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo; dan (6) proses penghapusan sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari: (a) sekolah melaksanakan prosedur penghapusan barang inventaris dengan cara pemusnahan, dan (b) sekolah melaksanakan prosedur penghapusan barang inventaris dengan cara lelang. Proses tersebut sebagian besar tidak pernah dilakukan di SMAN se-Kota Probolinggo.
    Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar: (1) pengawas dan pejabat dinas pendidikan kota probolinggo: agar lebih meningkatkan pengawasan tentang penghapusan sarana dan prasarana di setiap sekolah sehingga kebijakan yang diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, melalui meningkatkan penghapusan sarana dan prasarana yang ada di sekolah; (2) kepala sekolah SMA Negeri se-kota Probolinggo: agar lebih meningkatkan proses penghapusan barang inventaris yang jarang dilakukan oleh sekolah. Sehingga dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan dalam hal mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang dipimpinnya dalam rangka pendayagunaan secara optimal; (3) guru dan petugas tata usaha pengurus sarana dan prasarana sekolah: agar penghapusan barang inventaris di sekolah perlu ditingkatkan, sehingga pengetahuan tentang penghapusan barang inventaris pendidikan bukan hanya sebagai wawasan, tetapi sebagai suatu kesatuan dalam proses pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan; (4) jurusan administrasi pendidikan: Hendaknya mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan atau seminar mengenai penghapusan barang inventaris pendidikan, agar pelaksanaan penghapusan barang inventaris pendidikan selalu dilaksanakan secara optimal; (5) peneliti lain: penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya.


Teks Penuh: DOC PDF