SKRIPSI Jurusan Administrasi Pendidikan - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI PESERTA DIDIK PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH INKLUSI (STUDI KASUS DI SMP NEGERI 18 MALANG)

Syaima .

Abstrak


ABSTRAK

 

Syaima. 2012. Strategi Pengembangan Peserta Didik Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi (Studi Kasus SMPN 18 Malang). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. M. Huda, A.Y, M.Pd.

 

Kata Kunci : Pengembangan, Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah inklusi.

 

Sesuai dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat 1 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Adanya undang-undang tersebut dapat dijelaskan bahwa semua warga negara tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan pendidikan yang layak, Oleh karena itu, pemerintah menggalakkan program sekolah inklusi yaitu sekolah yang memasukkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah reguler. Adanya sekolah inklusi diharapkan sebagai bentuk pemerataan pendidikan di Indonesia dimana siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dapat belajar bersama sehingga mewujudkan sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain terhadap potensi dan bakat yang dimiliki masing-masing individu.

Tujuan dari penelitan ini adalah mendeskripsikan (1) kegiatan pengembangan peserta didik pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK); (2) strategi pengembangan peserta didik pada siswa ABK; (3) kekuatan dan pendayagunaan kekuatan yang ada; dan (4) kelemahan serta pemecahan masalah dalam pengelolaan kegiatan pengembangan peserta didik pada siswa ABK.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Dalam penelitian ini penelitin terjun langsung ke lapangan penelitian karena kehadiran peneliti merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan dalam penelitan kualitatif. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang sudah terkumpul semua melalui tiga teknik tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kebenarannya yaitu dengan cara mencatat, pengkodean, pengklasifikasian data, perakitan informasi, dan mengambil kesimpulan dari data yang sudah di telaah. Untuk mengecek keabsahan data yang ada dilakukan dengan pengkroscekkan hasil wawancara dengan informan yang berbeda.

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah siswa SMPN 18 Malang dibedakan menjadi dua jenis yaitu (1) siswa reguler dan (2) siswa ABK. Untuk kegiatan pengembangan bagi siswa dibagi menjadi dua hal yaitu (1) kegiatan kurikuler dan (2) ekstrakurikuler. Kegiatan kurikuler adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan aspek kognitif siswa dan kegiatan ini wajib diikuti oleh semua siswa. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan pada bakat, minat, dan kemandirian siswa. Program kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler bagi siswa ABK lebih kompleks dibandingkan dengan siswa reguler. Karena pengembangan bagi siswa ABK tidak hanya pada pengetahuan umum saja tetapi juga pengembangan kepada pengendalian emosi dan perbaikan prilaku. Kegiatan kurikuler bagi siswa ABK dibagi menjadi inclass, outclass, dan outdoor. Sedangkan kegiatan ekstrakurikulernya berupa seni musik, terapi, dan outbond. Masing-masing kegiatan ini akan memberikan bantuan kepada siswa ABK untuk mengendalikan emosi dan perbaikan prilakunya.

Strategi pengembangan kegiatan siswa ABK yang dilakukan adalah adanya manajemen khusus yang menangani siswa ABK. Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan siswa ABK diatur oleh manajemen inklusi SMPN 18 Malang. Pengelolaan kegiatan sesuai dengan teori manajemen pendidikan yaitu adanya perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan evaluasi. Kekuatan yang ada dalam pengembangan peserta didik pada siswa ABK adalah adanya dukungan dari berbagai pihak, jumlah Guru Pendamping Khusus (GPK) sesuai dengan jumlah ABK yang ada, siswa tidak diperbolehkan menggunakan shadow, dan pemberian layanan yang maksimal kepada siswa.

Pendayagunaan kekuatan yang ada adalah berupa: evaluasi kegiatan, menerima masukan positif dari berbagai pihak, dan adanya rasa keterbukaan dan kekeluargaan dikalangan organisasi SMPN 18 Malang. Faktor kekurangan dalam pengembangan peserta didik ABK adalah waktu pelaksanaan program yang sering berbenturan dengan program lain dan belum jelasnya kurikulum bagi siswa ABK. Strategi mengatasi kekurangan ini adalah dengan menjalin komunikasi dengan orang tua siswa, transparasi program, dan GPK harus mampu untuk memanfaatkan waktu yang ada serta 

Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah (1) Kepala Sekolah dan Manajer Inklusi sekolah inklusi dapat memelihara dan meningkatkan kualitas manajemen pendidikan inklusi khususnya dalam hal adminstrasi untuk siswa ABK di SMPN 18 Malang melalui perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi secara menyeluruh sehingga komponen sekolah dapat menerima siswa ABK dengan baik; (2) Guru Mata Pelajaran dan Guru Pendamping Khusus sekolah inklusi hendaknya bisa meningkatkan kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik untuk mengembangkan potensi siswa ABK karena ABK membutuhkan bimbingan tidak hanya dari GPK saja tetapi juga dari guru mata pelajaran; (3) akademisi Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang lebih meningkatkan wawasan teori mengenai peserta didik dan perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia; dan (4) Peneliti Lain agar dapat meneliti manajemen pendidikan inklusi dari berbagai subtansi manajemen pendidikan,  karena setiap subtansi pengelolaan pendidikan inklusi mempunyai permasalahan yang berbeda dan unik untuk diteliti.