SKRIPSI Jurusan Administrasi Pendidikan - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Strategi Manajemen Pembelajaran Terpadu Dalam Membentuk Kepribadian Siswa (Studi Kasus di SDI Surya Buana Malang)

Umi Hurliyah

Abstrak


ABSTRAK

Hurliyah, Umi. 2011. Strategi Manajemen Pembelajaran Terpadu Dalam Membentuk Kepribadian Siswa (Studi Kasus di SDI Surya Buana). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd, (II) Dr. H. A. Supriyanto, M.Pd, M.Si Kata Kunci : BAB I PENDAHULUAN Bab I ini akan memaparkan tentang: (a) konteks penelitian, (b) fokus penelitian, (c) kajian pustaka, (d) kegunaan penelitian, dan (e) definisi istilah A. Konteks Penelitian Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan mulai dari pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana prasarana pendidikan, pengangkatan tenaga kependidikan sampai pengesahan undangundang sistem pendidikan nasional serta undang-undang guru dan dosen. Strategi manajemen pembalajaran merupakan salah satu upaya pihak sekolah dalam meningkatkan kualitas sekolah. Kemampuan dan keahlian para pendidik adalah modal utama untuk mengembangkan strategi pembalajaran di sekolah. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang studi yang akan diajarkannya saja, tetapi juga harus menguasai dan mampu mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tersebut pada peserta didik. Menurut Fattah (2009:5) arah pendidikan adalah: Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri. Untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti: konsep; prinsip; kreativitas; tanggung jawab; dan keterampilan. Dengan kata lain perlu mengalami perkembangan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Demikian pula individu juga makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sesamanya. Objek sosial ini akan berpengaruh terhadap perkembangan individu. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara perkembangan aspek individual dan aspek sosial. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Guru harus mampu menciptakan metode pembelajaran yang dapat merangsang daya pikir siswa serta mudah dipahami dan dimengerti peserta didik. Pembelajaran yang menyenangkan dapat membawa hal baik pada peserta didik agar peserta didik tidak tertekan secara psikologis dan tidak merasa bosan dengan suasana di kelas serta apa yang diajarkan oleh guru pengajar. Proses pembelajaran merupakan sarana untuk meningkatkan prestasi siswa baik secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Terkait dengan hal itu perlu ada telaah lebih jauh tentang strategi manajemen pembelajaran terpadu dalam membentuk kepribadian siswa, karena sekolah alam saat ini merupakan faktor penting dalam memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang sangat penting keberadaannya, karena memberikan dasar untuk mengikuti pendidikan ke jenjang berikutnya, maka perlu disadari lembaga yang bermutu dan berkualitas. Dalam penelitian ini peneliti mengambil objek di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana dikarenakan dari sudut pandang pembelajarannya sangat bagus untuk diteliti. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah siswa dari tahun ke tahun dan banyaknya prestasi yang diraih oleh siswa Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang. Di sekolah alam anak-anak diajarkan bagaimana caranya mencintai lingkungan disekitar kita. Sekolah Alam Surya Buana memiliki prinsip dasar pendidikan yaitu sekolah adalah rumah bagi anak, guru merupakan orang tua bagi anak di sekolah, anak adalah individu yang unik, karena itu dikembangkan pelayanan pendidikan secara individual, kebahagiaan anak merupakan landasan seluruh program, kesabaran, keikhlasan, perencanaan dan metode adalah kunci keberhasilam pengembangan anak. Sekolah Dasar Islam Surya Buana Malang merupakan salah satu lembaga formal Yayasan Bahana Cita Persada yang berdiri tahun 2002 dalam rangka mengembangkan kedalaman spiritual, keagungan akhlak, dan kekuatan intelektual. Sekolah Alam Surya Buana dirintis dan dikembangkan oleh Drs. H. Abdul Djalil Z., M.Ag. Beliau adalah salah satu orang yang dulu menjabat sebagai Kepala MIN Malang 1 tahun 1986-1994 (8 tahun), Kepala MTS Negeri 1 Malang tahun 1994-2000 (6 tahun), dan Kepala MA Negeri Malang selama 5 tahun. Berdasarkan studi pendahuluan di SDI Surya Buana Malang, Bapak Ahmad Zein Fuad, S.Si selaku waka humas dan sarana prasarana menjelaskan bahwa: Pembelajaran terpadu yaitu memberikan materi tambahan sebelum pembelajaran, misalnya tentang pelajaran agama, setiap harinya siswa diwajibkan membaca surat-surat pendek, asmaul husna dan sholat dhuha. Dari pembelajaran tersebut siswa sudah terbiasa untuk melakukannya setiap hari tanpa harus menghafal mereka sudah hafal dengan sendirinya. Jadi pembelajaran terpadu merupakan tambahan materi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai yang diberikan kepada siswa baik berupa teori maupun praktek yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak, karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Strategi pembelajaran terpadu yang diterapkan di SDI Surya Buana dalam jangka waktu yang tidak ditentukan akan membentuk karakter siswa kearah yang lebih baik. Dalam hal ini untuk mengetahui karakter siswa yaitu dapat dilihat setelah siswa tersebut pulang sekolah atau pada saat dirumah. SDI Surya Buana menanamkan materi agama Islam yang mendalam, tetapi pembelajaran di sini bukan hanya terpaku pada pembelajaran Islam saja, yang ditekankan di sini adalah cara berpikir siswa, bagaimana siswa mencari problem solving sendiri dari soal yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran di kelas masing-masing. Strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan materi pembelajaran terpadu yaitu agar siswa dapat membuat soal sendiri yang nantinya akan dijawab sendiri oleh siswa. Jadi dalam hal ini siswa dituntut untuk mandiri dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Berdasarkan pemikiran tersebut manajemen pembelajaran dapat diartikan sebagai usaha ke arah pencapaian tujuan-tujuan melalui aktivitas-aktivitas orang lain atau membuat sesuatu dikerjakan oleh orang-orang lain berupa peningkatan minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang siswa (orang yang belajar), dengan memperluas cakupan aktivitas (tidak terlalu dibatasi), serta mengarah kepada pengembangan gaya hidup di masa mendatang. Berdasarkan deskripsi di atas, maka peneliti tertarik dengan manajemen pembelajaran yang ada di sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang. Sehingga peneliti melakukan penelitian yang berjudul ” Strategi Manajemen Pembelajaran Terpadu Dalam Membentuk Kepribadian Siswa (Studi Kasus di SDI Surya Buana)”. B. Fokus Penelitian Berdasarkan uraian di atas, maka fokus penelitian yang akan diteliti sebagai berikut : 1. Kurikulum apa yang menjadi fokus pembelajaran di SDI Surya Buana yang meliputi: a) kurikulum apa yang digunakan di sekolah? b) mengapa menggunakan kurikulum tersebut? c) apa saja yang menjadi komponen kurikulum pembelajaran? d) mata pelajaran apa yang menggunakan pembelajaran terpadu? e) mengapa di sekolah menggunakan pembelajaran terpadu? 2. Bagaimana manajemen pembelajaran terpadu yang diterapkan di SDI Surya Buana yang meliputi: a) perencanaan pembelajaran, b) pengorganisasian pembelajaran, c) penggerakan pembelajaran, d) pengawasan pembelajaran. 3. Bagaimana strategi pembelajaran terpadu yang dapat membentuk kepribadian siswa di SDI Surya Buana yang meliputi: a) strategi apa yang digunakan dalam pembelajaran terpadu yang dapat membentuk kepribadian siswa? b) apakah guru menjadi peranan penting dalam membentuk kepribadian siswa? c) apa saja yang menjadi sasaran dari pembentukan kepribadian siswa? d) mengapa menggunakan atau menerapkan media pembelajaran tersebut? e) bagaimana penerapan pelaksanaan dari media pembelajaran tersebut? C. Kajian Pustaka 1. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran a. Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Sobri (2009:114) strategi adalah langkah-langkah umum dalam pembelajaran yang mesti dilakukan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Strategi merupakan usaha untukmemperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan, selanjutnya dengan mengutip pemikiran J.R David (dalam Senjaya, 2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Menurut Wena (2009:5) strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Variabel strategi pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: a. Strategi pengorganisasian (organizational strategy) merupakn cara untuk menata isi suatu bidang studi, dan kegiatan ini berhubungan dengan tindakan pemilihan isi/materi, penataan isi, pembuatan diagram, format dan sejenisnya. b. Strategi penyampaian (delivery strategy) merupakan cara untuk menyampaikan pembelajaran pada siswa dan atau untuk menerima serta merespon masukan dari siswa. c. Strategi pengelolaan (management strategy) adalah cara untuk menata interaksi antara siswa dan variabel strategi pembelajaran lainnya (variabel strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian). Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha yaitu : 1) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil ( out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2) Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama ( basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. 3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah ( steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 4) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (kriteria) dan patokan ukuran ( standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. Jika diterapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1) Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4) Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. b. Penerapan Strategi Pembelajaran Menurut Wena (2009:14-17), Hasil kemampuan guru menganalisis kondisi pembelajaran dapat dijadikan pijakan dasar menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan. a) Tujuan pembelajaran. Menurut Taksonomi Bloom (dalam Wena 2009), tujuan pembelajaran dibagi tiga kategori, yaitu: (a) kognitif; (b) efektif dan (c) psikomotorik. b) Karakteristik peserta didik. Karakteristik peserta didik berhubungan dengan aspek yang melekat pada diri peserta didik, seperti motivasi, bakat, minat, kemampuan awal, gaya belajar, kepribadian dan sebagainya. Sehingga seorang guru harus dapat memahami karakteristik masing-masing peserta didiknya. c) Kendala sumber dan media belajar. Terkait dengan penerapan strategi pembelajaran bahwa setiap strategi pembelajaran digunakan untuk materi atau isi pembelajaran tertentu, dan juga membutuhkan media atau sumber belajar tertentu. d) Karakteristik atau struktur bidang studi. Struktur bidang studi terkait dengan hubungan-hubungan diantara bagian-bagian suatu bidang studi. Itulah sebabnya, pemahaman seorang guru terhadap struktur bidang studi yang diajarkan sangat penting dalam penetapan metode pembelajaran yang digunakan. c. Pengertian Pembelajaran Terpadu Menurut TIM Pengembang PGSD (1997: 5) Pembelajaran terpadu berasal dari kata integrate teaching and learning, yang memiliki makna bahwa pendekatan ini dapat mengembangkan kemampuan anak dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupannya. Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang mengintergrasikan beberapa matapelajaran yang terkait secara harmonis untuk memberikan belajar yang bermakna kepada siswa . Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Melalui pembelajaran terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Peserta didik dilatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistis), bermakna, autentik, aktif. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. d. Karakteristik Pembelajaran Terpadu Sebagai suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) berpusat pada anak ( child centered); (b) memberikan pengalaman langsung pada anak; (c) pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas; (d) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran; (e) bersifat luwes; (f) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. e. Kelebihan-kelebihan Pembelajaran terpadu Berdasarkan uraian dan ciri-ciri di atas, pendekatan pembelajaran terpadu memiliki kelebihan-kelebihan dari pendekatan konvensional. Kelebihan-kelebihan tersebut di antaranya: a. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak. b. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak c. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama d. Pembelajaran terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak e. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalan yang sering ditemui dalam lingkungan anak f. Menumbuh kembangkan keterampilan social anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain. f. Prinsip Pembelajaran Terpadu Prinsip-prisip dasar pembelajaran terpadu yaitu: (a) the hidden curriculum. anak tidak hanya terpaku pada peryataan,atau pokok bahasan tertentu ,yang memuat pesan “tersembunyi” penuh makna bagi anak; (b) subjects in the curriculum. Perlu dipertimbangkan mana yang perlu didahulukan dalam pemilihan pokok atau topik belajar,waktu belajar ,serta penilain kemajuan; (c) the learning environment . Lingkungsn belajar dikelas memberikan kebebasan bagi anak untuk berpikir dan berkreativitas; (d) views of the social world. Masyarakat sekitar membuka dan memberikan wawasan untuk pengembangan pembelajaran disekolah; (e) values and attitude. Anak-anak memperoleh sikap dan norma dari lingkungan masyarakat,termasuk rumah,sekolah dan panutannya. 2. Konsep Dasar Kurikulum a. Pengertian Kurikulum Menurut BSNP (2006) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. KTSP ((Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. b. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Hasan (2006) menjelaskan struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran ke dalam muatan kurikulum pada setiap matapelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Struktur kurikulum terdiri dari tiga komponen, yakni komponen mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Komponen muatan lokal dan pengemabnagan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum dan di kembangkan sendiri oleh sekolah. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. 1) Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam SI. 2) Muatan Lokal Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. 3) Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik serta kegiatan kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja. 4) Pengaturan Beban Belajar Dalam pengaturan beban belajar dapat dibagi menjadi: (a) beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan baik kategori standar maupun mandiri, beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan baik kategori mandiri dan kategori standar, (b) jam pembelajaran untuk setiap matapelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap matapelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam standar isi, dan (c) Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket dan dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. 5) Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. 6) Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: (a) menyelesaikan seluruh program pembelajaran; (b) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; (c) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (d) lulus Ujian Nasional. 7) Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. 3. Konsep Dasar Manajemen Pembelajaran a. Pengertian Manajemen Pembelajaran Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, mengelola, menata, mengurus, dan mengendalikan. dengan kata lain manajemen dapat diartikan sebagai proses mengajar, mengelola, menata dan mengendalikan. Menurut TIM Dosen AP Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), (2009: 87) manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif dan efisien. Terry (dalam Herujito, 2001:1) menjelaskan, bahwa manajemen adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating, dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya. Perencanaan Menurut Hasibuan (2005:40) adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, dan program-program dari alternatif-alternatif yang ada. Jadi masalah perencanaan adalah “memilih” yang terbaik dari beberapa alternatif yang ada. Menurut Gaffar (dalam Sagala, 2008) perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan dan berapa banyak biayanya. Perencanaan itu dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Oleh karena itu perencanaan merupakan proses penetapan dan pemanfaatan sumber-sumber daya secara terpadu yang dapat diharapkan menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan. Menurut Hasibuan (2005:40) pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan dengan demikian memperoleh kepuasaan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Salah satu fungsi pengorganisasian adalah mengatur mekanisme kerja organisasi dalam melaksanakan program yang ada untuk menjamin mencapaian tujuan dalam organisasi. Kegiatan pengorganisasian meliputi kegiatan kegiatan menejerial, pembentukan organisasi, pembagian tugas, tanggung jawab dan menentukan siapa yang akan melaksanakan program organisasi. Efisiensi dalam pengorganisasian pengakuan terhadap sekolah pada penggunaan waktu, uang, dan sumber daya yang terbatas dalam mencapai tujuannya, yaitu menentukan alat yang diperlukan, pengalokasian waktu, dana dan sumber daya sekolah. Menggerakkan menurut Terry (dalam Sagala, 2008) berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Artinya pemimpin harus mampu mengatur anggotaanggotanya. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di sekolah hendaknya mampu menggerakkan personel (guru, staf, dll) dalam melaksanakan program sekolah. Keberhasilan dalam pelaksanaan program sekolah salah satunya ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan model kepemimpinan. Buruknya kepemimpinan dari kepala sekolah dapat berdampak pada kinerja dari personel organisasi. Salah satu indikator lemahnya kepemimpinan adalah ketidakmampuannya menggerakkan potensi sumber daya organisasi yang ada. Para personel tidak akan bekerja secara maksimal jika arahan dari pemimpinnya tidak jelas mau kemana organisasi ini dibawa. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya mampu menggerakkan para anggotanya bekerja dengan baik, sehingga tujuan sekolah dapat terwujud. Menurut Mockler (dalam akhmad 2010) pengawasan adalah usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. Pengendalian/pengawasan adalah suatu proses mengarahkan seperangkat vatiabel/unsur (manusia, peralatan, mesin, organisasi) kearah tercapainya suatu tujuan atau sasaran menajemen. Pengendalian dan pengawasan diperlukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu kegiatan dalam organisasi sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah digariskan atau ditetapkan. Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua funfsi terdahulu tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Pembelajaran merupakan usaha sistematis yang memungkinkan terciptanya pendidikan demi meraih ilmu pengetahuan sebagai proses pengalaman khusus yang bertujuan menciptakan suatu perubahan secara terus menerus dalam perilaku dan pemikiran manusia. Pembelajaran didefinisikan sebagai kegiatan guru yang mendorong terjadinya aktifitas belajar. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (SISDIKNAS, 2003:5). Menurut Setyosari dan Sulton (2003:18) ”pembelajaran adalah penyajian informasi dan aktifitas-aktifitas yang memudahkan peserta didik untuk mencapai tujuan khusus belajar yang di harapkan”. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pembelajaran merupakan upaya guru untuk meningkatkan kemampuan siswa agar mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Selain itu, agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan, maka Setyosari dan Sulton (2003:6) menyebutkan tiga hal pokok berkenaan dengan pembelajaran, yaitu: a) Belajar terjadi baik melalui maupun tanpa adanya pembelajaran; b) setiap aktifitas atau tindakan belajar melalui sejumlah transformasi informasi yang selanjutnya transformasi informasi itu sendiri di rujuk sebagai tahaptahap; dan c) keputusan tentang pembelajaran harus di buat dalam konteks atau kaitannya dengan suatu keterampilan yang di pelajari. Dalam pembelajaran sangat memerlukan tahap proses supaya pembelajaran bisa tercapai dengan apa yang diinginkan. Pembelajaran tersebut dilakukan secara formal, informal maupun non formal. b. Prinsip Pendidikan dan Pembelajaran Rogers (dalam Dimyati dan Mudjiono,2006:16) mengemukakan beberapa prinsip pendidikan dan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: a) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. b) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. c) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. d) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dewngan melakukan pengubahan diri terus-menerus. e) Belajar yang optimoal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar. f) Belajar mengalami ( experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat memberi peluang untuk belajar kreatif, self evaluasi dan kritik diri. Hal ini berarti evaluasi dari instruktur bersifat sekunder. g) Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa proses pendidikan dan pembelajaran di kelas selalu menitikberatkan kepada segi pembelajarannya, bukan segi siswa yang belajar. c. Tahap-tahap Pembelajaran Menurut Peaget (dalam Dimyati & Mudjiono,2006:14-15) pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut: a) Langkah satu: menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. b) Langkah dua: memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tertentu. c) Langkah tiga: mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. d) Langkah empat: menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran seorang guru harus dapat menjadi pemimpin di dalam kelas dan sekaligus merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran di kelas. d. Konsep Dasar Kepribadian Siswa 1. Pengertian Kepribadian Menurut Yusuf dan Nurihsan (2003:1) kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikolagi yang lahir berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan kasus) para ahli. Objek kajian kepribadian adalah “ human behavior”, perilaku manusia, yang pembahasannya terkait dengan apa, mengapa, dan bagaimana perilaku tersebut. Adapun kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris personality (social skill), dan (2) kesan yang paling menonjol yang ditunjukkan seseorang terhadap orang lain (seperti seseorang yang dikesankan sebagai orang yang agresif atau pendiam) b. Wwodworth mengemukakan bahwa kepribadian merupakan “kualitas tingkah laku total individu”. c. Dashiell mengartikannya sebagai “gambaran total tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”. d. Derlega, Winstead & Jones (2005) mengartikannya sebagai “sistem yang relatif stabil mengenai karakteristik individu yang bersifat internal, yang berkontribusi terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang konsisten”. e. Allport (1961) mengemukakan tentang pengertian kepribadian yaitu organisasi yang dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya. Jadi berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa kepribadian merupakan keterampilan atau kecakapan sosial yang dimiliki setiap individu yang berkontribusi terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang konsisten dan terorganisasi. 2. Perubahan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun kenyataan sering ditemukan adanya perubahan kepribadian. Perubahan itu terjadi dipengaruhi oleh faktor gangguan fisik dan lingkungan. faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kepribadian di antaranya sebagai berikut. a. Faktor fisik, seperti: gangguan otak, kurang gizi (malnutrisi), mengkonsumsi obat-obat terlarang NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) atau NARKOBA, minuman keras, dan gangguan organic (sakit atau kecelakaan). b. faktor lingkungan sosial budaya, seperti: krisis politik, ekonomi, dan keamanan yang menyebabkan terjadinya masalah pribadi (stress, depresi) dan masalah sosial (pengangguran, premanisme, dan kriminalitas). c. faktor diri sendiri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan), dan identifikasi atau imitasi terhadap orang lain yang berkepribadian menyimpang. 3. Karakteristik Kepribadian E.B Hurlock (Yusuf dan Nurihsan 2003: 12-14) mengemukakan bahwa karakteristik penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat ( healthy personality) ditandai dengan (a) mampu menilai diri secara realistik; (b) mampu menilai situasi secara realistik; (c) mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; (d) menerima tanggung jawab, individu yang sehat adalah individu yang bertanggung jawab; (e) kemandirian (autonomy). Individu memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan; (f) dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan emosinya; (g) berorientasi tujuan. Setiap orang mempunyai tujuan yang ingin dicapainya; (h) berorientasi keluar. Individu yang sehat memliliki orientasi yang keluar. Dia bersifat respek (hormat), empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap situasi, atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berpikir; (i) penerimaan social. Individu dinilai positif oleh orang lain, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain; (j) memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya; (k) berbahagia. Individu yang sahat, situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan. Adapun kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan karakteristik sebagai berikut: (a) mudah marah (tersinggung); (b) menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan; (c) sering merasa tertekan (stress atau depresi); (d) bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang (hewan); (e) ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum; (f) mempunyai kebiasaan berbohong; (g) hiperaktif; (h) bersikap memusuhi semua bentuk otoritas; (i) senang mengkritik/mencemooh orang lain; (j) sulit tidur; (k) kurang memiliki rasa tanggung jawab; (l) sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan bersifat organis); (m) kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama; (n) bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan; (o) kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalankan kehidupan. Kelainan tingkah laku di atas berkembang, apabila anak hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif dalam perkembangannya. Seperti lingkungan keluarga yang kurang berfungsi (dysfunctional family) yang ditandai oleh, hubungan antara anggota keluarga kurang harmonis, kurang memperhatikan nilainilai agama dan orang tuanya bersikap keras atau kurang memberikan curahan kasih saying kepada anak. e. Konsep Dasar Sekolah Alam Sekolah alam umumnya adalah sekolah formal, ada yang dari playgroup hingga SMA. Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional, tetapi dikembangkan lagi untuk bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan komprehensif untuk pengembangan minat, bakat, dan potensi setiap anak. Sekolah alam memiliki konsep untuk mengajak anak-anak berinteraksi langsung dengan alam dan memanfaatkan alam sebagai sumber belajar setiap harinya. Pembelajaran tak lagi abstrak